Sastra Pinggiran dan Terpinggirkan
APA pula yang disebut sastra marginal? Apakah karya sastra yang membincangkan nasib orang-orang pinggiran atau karya sastra yang ditulis orang-orang pinggiran?
Pertanyaan itu mengemuka dalam “Diskusi Sastra Marginal” di ruang pertemuan Perpustakaan IAIN Walisongo, Semarang, kemarin. Sunlie Thomas Alexander dari Komunitas Rumahlebah Yogyakarta mengemukakan membumikan sastra marginal adalah keharusan. “Melalui sastra marginal, kita mengangkat dan menyuarakan orang-orang yang tak punya suara atau dimarginalkan,” katanya.
Sastrawan yang mengangkat tema itu antara lain Widji Thukul, Rendra, dan Budi Dharma. Widji Thukul, ujar cerpenis yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu, adalah sastrawan dalam arti sebenarnya.
Thukul lahir, besar, dan hidup di lingkungan orang-orang pinggiran. Dia pun senantiasa mengangkat kisah orang-orang itu dalam karyanya.
Kumpulan Cerpen
Pembicara lain, Gunawan Budi Susanto, menyatakan tak penting benar membuat definisi tentang sastra marginal. Yang jauh lebih penting, apakah keterpinggiran telah masuk merasuk sebagai tema pilihan para sastrawan? Apalagi kini, ketika politik jadi panglima dan kepentingan pribadi atau kelompok jadi pengendali sang panglima, sastra pun terpinggirkan.
Sesaat setelah diskusi didukung Surat Kabar Mahasiswa Amanat dan Teater Asa itu diluncurkan kumpulan cerpen The Regala 204B. Buku terbitan Gapuraja Media, Kudus, itu memuat cerpen-cerpen yang membeber kehidupan kaum pinggiran. (Rosidi-53)
Suara Merdeka, 06 September 2006
Loading...