Archive | June, 2007

“TALKSHOW” KUMPULAN CERITA “OPERA ZAMAN”

30 Jun

Komunitas Sendangmulyo Semarang bersama Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Manunggal Universitas Diponegoro, Semarang, Rabu (29/11) malam ini menggelar talkshow kumpulan cerita petualangan Opera Zaman di Sekretariat Komunitas Sendangmulyo, Jalan Bougenvile Raya II No 26, Sendangmulyo, Tembalang, Semarang. Sebagai pembicara adalah Presiden Komunitas Merapi Gendhotwukir, Elissiti J (Penerbit Grafindo Litera Media), Eko Sugiarto (penyunting), serta Indrian Koto dan Rosidi (penulis). Sastrawan S Prasetyo Utomo dan Teguh Hadi Prayitno (Komunitas Sendangmulyo) akan menjadi apresiator. Opera Zaman merupakan kumpulan cerita petualangan yang ditulis 20 penulis pemenang lomba cerpen untuk amal yang digelar Komunitas Merapi. (*/tra)

Kompas
Rabu, 29 November 2006

Menggalang Derma Lewat Sastra

30 Jun

Oleh WA Wicaksono

Ramalan bahwa dunia sibernetika (dunia internet) akan menjadikan pecandunya sebagai manusia-manusia kamar, yaitu manusia anti sosial yang asyik dengan dirinya sendiri karena segala kebutuhannya telah terpenuhi melalui internet telah tergusur sirna.

Munculnya fasilitas chatting, mailing list, blogger, dan layanan-layanan interaktif lainnya justru menjadikan manusia pengguna internet semakin aktif bersosialisasi. Kemudahan layanan komunikasi yang tersedia menjadikan manusia semakin rajin bertegur sapa, bergosip, berdiskusi, dan bertukar informasi secara lebih dinamis.
Komunitas-komunitas maya semakin menjamur dan berkembang dengan pesatnya, menyentuh semua aspek kehidupan yang ada. Alhasil banyak solidaritas antar sesama manusia yang muncul dari sini. Kemudahan networking, kecepatan sharing informasi dan jangkauan yang tak terbatas menjadikan kekuatan solidaritas mereka semakin solid dan sangat reaktif terhadap fenomena yang terjadi di dunia nyata.

Gebrakan Komunitas Merapi
Salah satu bukti aktual untuk membuktikan terma di atas adalah kiprah inovatif yang baru-baru ini dilakukan oleh sebuah komunitas maya bernama “Komunitas Merapi”. Lewat gebrakan berupa peluncuran buku kumpulan cerpen bertitel “Opera Zaman” yang hasil penjualannya akan disumbangkan untuk penyediaan buku-buku bacaan bagi anak-anak sekolah, kelompok ini telah membuka sebuah kiat baru penggalangan derma melalui media sastra.

Komunitas Merapi adalah sebuah kumpulan maya yang non-formal dari budayawan, seniman, sastrawan dan penulis “ndeso” yang kebanyakan bermukim di lereng gunung Merapi wilayah barat. Sesuai dengan namanya, komunitas ini hadir sebagai simbolisasi dari semangat warga merapi yang mayoritas petani, dalam usahanya untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan Merapi. Aktivitas dari kelompok ini lebih banyak ditekankan pada usaha-usaha pelestarian warisan leluhur. Meski berfokus pada aktivitas budaya tradisional bukan berarti kelompok ini jadi anti teknologi. Bebekal kecanggihan teknologi informatika yang memasyarakat, kelompok ini justru menciptakan sebuah mailing list yang beranggota seluruh warga Indonesia yang telah tersebar di seluruh dunia. Ternyata mereka yang berminat dan bergabung dipenuhi oleh kalangan terpelajar, atau setidak-tidaknya orang-orang yang memahami seluk beluk dunia luas. Sesuai dengan tujuan dasar mailing list ini yang memang dibentuk dengan landasan kesusastraan, kesenian dan kebudayaan yang berwawasan lingkungan hidup.

Bukti keberanian dan intelektualitas kelompok ini terwujud dalam penerbitan buku kumpulan cerpen “Opera Zaman” merupakan salah satu bentuk eksperiman budaya yang inovatif. Buku kumpulan cerpen yang notabene merupakan terbitan perdana kelompok ini benar-benar bisa dijadikan sebagai mesias semangat kebersamaan komunitas budaya di dunia maya.

Memang proses kelahiran buku ini cukuplah panjang. Namun dari awal, proyek penerbitan buku ini jelas-jelas dimaksudkan untuk amal. Ternyata sisi sosial penulis Indonesia sangatlah tinggi. Penggalangan karya yang dilakukan lewat milis mampu mengumpulkan tak kurang dari 170-an naskah cerpen. Fenomena ini otomatis menyebabkan tim penilai harus bekerja keras untuk memilih 20 cerpen terbaik.

Ke-20 cerpen tersebut adalah: Aku dan Ibuku (Sri Wulandari), Bulan Terang (Yohanes Prayoga), Hujan dan Ea (Fina Sato), Laju Kereta dan Kita Yang Menunggu (Indrian Koto), Mereka Hanyalah Angka (Manunggal K Wardaya), Opera Padas (I Made Andi Arsana), Sayap Odin (Yeni Yuniawati), Sebuah Perjalanan Empat Musim (Wa Ode Nirmala Ningrum), Sepenggal Cerita untuk Nenek (Endeng Syamsul Maarif), Sarapan Bersama Tuhan (Shinta Kertashari), Ayah (Rio Dhana Kusuma), Impian Winda (Etty Afianti H), Tegar dan Si Pendek dari Rawa Busuk (Monica Dewi BP), Di atas becak ayah (Abdullah Khusairi), Sentuhan Sang Bidadari (Sesar Fajar Tresnanto), Ngadikan (Rosidi), Perempuan Pembalik Sandal (Muhammad Shofa), Makasih, Bang (Panji Surya), Kereta Api Merah Muda (Mindo Hutagaol) dan Elegi Esok Pagi (Sonny Herdiana)

Hebatnya ke-20 orang penulis ini ikhlas untuk tidak mendapatkan royalty mereka. Mereka tak mengeluh meski jerih payah mereka hanya diganjar dengan dua buku pilihan terbaik yang dikumpulkan oleh tim proyek kumcer amal dan dua buku Opera Zaman. Mereka terlihat cukup bahagia bahwa hasil penjualan buku ini disumbangkan untuk penyediaan buku-buku bacaan anak sekolah dalam rangka memberantas buta aksara.

Bukan Sembarang Cerita Petualangan
Bukan kebetulan semata, cerita-cerita yang mewarnai buku ini pun sangat sesuai dengan misi yang diembannya. Buku ini berkisah tentang petualangan 20 penulisnya dengan penggarapan isi buku yang cukup cerdas dan mempertimbangan nilai-nilai kehidupan, citra warna lokal serta makna pembelajaran bagi pembaca.

Sebagian besar cerita menyiratkan tentang nilai-nilai budi pekerti yang luhur yang dimiliki masyarakat Indonesia dan keindahan alam Indonesia yang membentang mulai dari Sabang sampai Merauke. Sisi-sisi tersembunyi kearifan lokal masyarakat Indonesia yang selama ini terpendam, mampu disingkap dengan lugas dan tuntas lewat cerita yang tanpa basa-basi dan terkadang menghentak naluri kita. Kisah-kisah yang diangkat di buku ini benar-benar tidak jauh-jauh dari sosok kita sendiri.

Bisa menjadi penjelmaan dari apa saja yang mungkin sering kita alami dalam keseharian kita. Kumpulan cerita petualangan yang benar-benar nyata. Cermin yang memantulkan gambaran perjuangan dalam kehidupan sehari-hari yang bisa kita jadikan pelajaran, namun bisa sekaligus menghibur melalui kemasan cerita yang manis, terkadang halus, konyol, romantis, sentimental bahkan kolokan. ***

Batam Pos
Sabtu, 17 Pebruari 2007

OPERA ZAMAN DI ALUN-ALUN KIDUL YOGYAKARTA

23 Jun

Setangkai bunga ilalang
Kupersembahkan padamu
Bila
Kau bisa
Menjaga bumi ini
Agar tetap bisa tersenyum

Itulah sebait puisi yang terbawa angin ke segenap orang yang
mengunjungi Alun-alun Kidul sayap barat daya Yogyakarta pada hari
sabtu, 9 September 2006. Puisi itu diucapkan Maria Bo Niok
(Komunitas Terminal Tiga) saat acara gathering anggota milis
Komunitas Merapi.

Acara gathering anggota milis Komunitas Merapi tahun 2006 ini
diselenggarakan untuk mengucap syukur atas terbentuknya milis
Komunitas Merapi setahun yang lalu, tepatnya tanggal 8 september
2005. Selain itu, tanggal 8 september juga diperingati sebagai hari
aksara internasional. Ketepatan tanggal yang tidak disengaja ini
memberi arti bahwa perjuangan milis Komunitas Merapi selanjutnya
adalah untuk mengentaskan buta aksara di Indonesia melalui kegiatan-
kegiatan yang diadakannya.

Setahun bukanlah waktu yang lama. Komunitas Merapi bekerjasama
dengan Komunitas Terminal Tiga pernah memberitakan di berbagai
media massa seputar kegiatan Proyek Penerbitan Kumcer Amal. Awal
maret tepatnya, kegiatan proyek kumcer amal ini mulai dipublikasikan
dan mendapatkan tanggapan yang bagus dari para penulis Indonesia.
Ada 170-an naskah yang masuk ke milis Komunitas Merapi dan dinilai
oleh tim penilai dari tim proyek kumcer amal ini. Dari 170-an naskah
yang masuk, hanya 20 naskah cerpen pilihan yang terpilih untuk
dimuat dalam buku kumpulan cerpen yang selanjutnya diberi judul
Opera Zaman.

Tepat pada tanggal 8 september 2006, Opera Zaman (Kumpulan Cerita
Petualangan) terbit dan siap beredar. Buku Opera Zaman ini
diterbitkan oleh Grafindo Litera Media-Yogyakarta. Penulis-penulis
terpilih yang masuk dalam buku Opera Zaman yaitu Sri Wulandari,
Yohanes Prayoga, Fina Sato, Indrian Koto, M.K.Wardaya, I Made A.A.,
Yeni Yuniawati, Wa Ode N.N., Edeng Syamsul M., Shinta Kerthasari,
Rio D.K., Etty A.H., Monica Dewi B.P., Abdullah Khusairi, Sesar
Fajar T., Rosidi, Shofa M., Panji Surya, Mindo Hutagaol dan Sony
Herdiana. Ke-20 penulis ini tidak mendapatkan royalty tetapi berhak
mendapatkan dua buku pilihan terbaik yang dikumpulkan oleh tim
proyek kumcer amal dan dua buku Opera Zaman. Hasil penjualan buku
ini disumbangkan untuk penyediaan buku-buku bacaan anak sekolah,
itulah yang tertulis di halaman belakang sampul buku dan itu pula
yang menjadi tujuan akhir dari Proyek Penerbitan Kumcer Amal yang
diadakan oleh Tim Proyek Penerbitan Kumcer Amal milis Komunitas
Merapi di tahun 2006.

“Ini merupakan kerja cerdas yang membahagiakan,” demikian kata
Gendhotwukir pembuat milis Komunitas Merapi saat menjadi moderator
dalam acara gathering. Mewakili pihak penerbit, Ellissiti juga
memberikan acungan jempol bagi penggagas ide Opera Zaman. “Saat
orientasi hidup materialisme semakin membuncah, Opera Zaman
berkiprah lain,” demikian ujarnya. Eko Sugiarto (Ugie) selaku tim
penilai naskah memaparkan proses penilaian dan bagaimana tim penilai
bekerja. Ia mengatakan bahwa bukanlah hal yang mudah untuk menilai
naskah-naskah cerita pendek yang masuk ke tim penilai melalui milis
Komunitas Merapi. Semua naskah mengandung nilai sastra dan sesuai
dengan tema petualangan yang diangkat oleh tim. Ia mengatakan bahwa
sebagian besar cerita pendek yang masuk ke milis Komunitas Merapi
mengangkat kisah seputar kehidupan pribadi penulis atau orang-orang
di sekitar penulis.

Acara gathering dan peluncuran Opera Zaman yang mengambil latar
hiruk pikuk kehidupan sekitar tempat wisata Masangin, Alun-alun
Kidul-Yogyakarta juga diikuti oleh 6 orang penulis yang cerpennya
dimuat dalam buku ini. Rosidi, Etty, Indrian, Sesar, I Made dan
Shofa menceritakan tentang proses kreatif mereka saat membuat cerita
pendek. Sambil tersenyum-senyum dan menikmati hidangan bajigur serta
jagung bakar, mereka sebagian besar mengiakan perkataan Ugie bahwa
semua ide mereka berawal dari kisah pribadi dan orang-orang di
sekitar mereka. Selain penulis Opera Zaman, akademisi, sastrawan,
pengelola rumah baca “River Castle” dan beberapa seniman lainnya
juga menghadiri acara ini. Mereka tidak hanya berasal dari
Yogyakarta, tetapi juga berasal dari Malang, Jombang, Manado,
Semarang, Pekalongan, Kudus, Wonosobo dan beberapa kota besar
lainnya di Indonesia. Junko Sato, peneliti dari Jepang yang juga
mahasiswi S3 Departemen Antropologi Budaya Universitas Tokyo hadir
dalam acara ini dan dia mengatakan kekagumannya atas Opera Zaman.
Kirdjito, budayawan ndeso dari Sumber-Muntilan juga menyempatkan
hadir bersama anggota theater dari lereng Komunitas Merapi. Beliau
mengatakan bahwa Komunitas Merapi tidak hanya beraktifitas di lereng
Gunung Merapi saja tetapi menjalar dan berbaur dengan masyarakat
hingga pantai Selatan sama seperti Gunung Merapi yang titik nolnya
diukur dari atas permukaan pantai laut Selatan.

Sejak diluncurkan pada hari sabtu, 9 september 2006 Opera Zaman
langsung dibeli oleh pecinta petualangan. Sepuluh buku perdana yang
dijual dengan harga Rp. 15.000,00 saat gathering menjadi awal bagi
pengumpulan dana yang akan disumbangkan untuk penyediaan buku-buku
bacaan anak sekolah. Opera Zaman sebagian besar menyiratkan tentang
budi pekerti yang luhur dari orang Indonesia dan keindahan alam
Indonesia yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Semua
kearifan lokal masyarakat Indonesia yang selama ini terpendam
disingkap dengan lugas dan tuntas tanpa basa-basi, maka buku ini
sangatlah layak untuk dibaca dan dijadikan teman perjalanan hidup
generasi penerus bangsa yang cinta budaya lokal dan alam Indonesia.
Dua minggu sejak tulisan ini muncul di media massa dan internet,
buku Opera Zaman yang berukuran 11,5 cm x 17,5 cm dengan tebal 192
halaman dan bergambar benih tanaman yang tumbuh dari ujung jari kaki
seorang petualang pada bagian sampul buku yang berwarna krim sudah
ada di toko-toko buku dengan harga yang terjangkau. Bergegaslah
selamatkan anak-anak Indonesia dari buta aksara. (s_sundah)

sumber: http://gunkid.multiply.com

Museum Kretek Kudus “Galeri” yang Terlupakan

23 Jun

LELAKI tua berjas, blangkon, dan kain bermotif bunga-bunga itu tampak anggun. Kacamata yang dia kenakan kian menegaskan kewibawaan.
Siapa gerangan lelaki tua itu? Figur itu adalah Ki Nitisemito. Dialah pengusaha rokok kretek Bal Tiga yang legendaris pada masa Indonesia masih bawah daulat kekuasaan kolonial Belanda. Dan lukisan sang legenda itu adalah satu di antara 11 lukisan tokoh pengusaha rokok kretek di kota Kudus.
Lukisan-lukisan itu terpampang di sebuah bidang dinding utama gedung Museum Kretek yang diresmikan Menteri Dalam Negeri (pada waktu itu) Soepardjo Roestam pada 3 Oktober 1986. Tokoh lain dalam lukisan-lukisan tersebut adalah M Atmowidjojo (pengusaha rokok Goenoeng Kedoe), HM Ma’ruf (Djambu Bol), serta HM Muslich dan H Ali Asikin.
Ya, Museum Kretek sebenarnya bukan sekadar file penyimpan sejarah perkretekan di Kudus. Lebih dari itu, ia bisa menjadi ajang penelitian ilmiah dan pengembangan keilmuan.
Yang paling mengesankan, di museum itu banyak barang bernilai seni tinggi. Foto, lukisan, patung, dan miniatur yang menggambarkan proses pembuatan rokok kretek adalah aset berharga yang sangat mengesankan.
Museum itu menjadi semacam “galeri” yang terlupakan. Lihatlah, berbagai barang itu di dalamnya kurang terpelihara. Debu tebal dan kotoran lain menghiasi barang-barang itu.
“Ya, perhatian pemerintah terhadap museum memang sangat kurang. Karena itulah barang-barang ini kurang terawat,” ujar Baginda Abu Fahru Malay, petugas museum.
Lelaki kelahiran Kudus, 17 Maret 1954, itu menuturkan museum tersebut seharusnya menjadi kebanggaan dan mendapat perhatian. Karena, dulu, agar bisa disebut kota kretek, Kudus harus berebut dengan kota-kota di Jawa Timur untuk dipilih sebagai tempat pembangunan Museum Kretek. Namun, kini, museum yang merupakan miniatur jagat perkretekan itu kurang terawat.
Suami Sri Wahyuni (40) itu berharap pemerintah memperhatikan museum bernilai seni tinggi itu. “Di sini kan tak cuma ada museum. Di depan itu juga ada rumah adat Kudus yang membutuhkan perhatian,” ujarnya. (Rosidi-53)
Suara Merdeka
31 Oktober 2006

Pelatihan Jurnalistik Dasar LPM Paradigma

23 Jun

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma STAIN Kudus mengadakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD). Acara akan dilaksanakan di Balai Desa Undaan Lor, mulai Jum’at-Ahad (13-15/04). Maksudnya, Pelatihan ini sebagai ajang rekrutmen anggota dan untuk menumbuhkan bakat kreatifitas mahasiswa dalam dunia jurnalistik. Sebagai tujuannya, pelatihan ini untuk mendidik mahasiswa agar peka terhadap perubahan, serta membentuk jaringan antar pers mahasiswa dan pers lokal.
Pelatihan kali ini berbeda dengan pelatihan tahun-tahun kemarin. Jika pelatihan dan workshop kemarin kami langsungkan dalam tiga hari, pada kali ini workshop dilaksanakan dua Minggu sebelum acara pelatihan (pemberian materi), dan pada pelatihannya, selain memberikan materi, juga mengevaluasi hasil karya (Buletin bayangan) peserta yang dikerjakan dalam dua minggu.
Adapun yang pemateri, hadir Shohirin (Tempo), Darmanto Nugroho (Wawasan), Rosidi (Penerbit Gapuraja Media Kudus), Adhitya Armitrianto (Suara Merdeka), Djoko Edi S. (Radar Kudus), Heru Sri Kumoro (Kompas), dan Ahmad Munif (Komunitas Loempia), juga Hadir Hasan Aoni Aziz US. (Konsultan Public Relation) pada season pengenalan Jurnalistik dan Pers Mahasiswa.

Sumber : Paradigmaonline

Arif Budiman: Parodi Politik Menguntungkan Kita

23 Jun

Keberadaan parodi politik yang ditayangkan oleh media televisi nasional perlu bagi bangsa Indonesia. Selain sebagai bagian dari forum kritik terhadap pihak yang dikritik dalam hal ini pemerintah. Juga menjadi ruang pembelajaran politik bagi pemirsa televisi. Sangat disayangkan jika pemerintah mesti mensomasi atau dalam hal ini sampai melarang tayangan tersebut.
Demikian disampaikan oleh Prof. Dr. Arif Budiman (Budayawan) pada acara Parodi Kritik dan Kebebasan Pers di Gedung Perputakaan Lantai II Kampus IAIN Walisongo Rabu (04/04) kemarin. Arif menambahkan media perlu membuat parodi-parodi politik semacam itu. Bukan hanya saat peminatnya (rating-red) tinggi, namun juga menjadi dinamika di tubuh pers itu sendiri.
Kebebasan berekspresi dalam mengeluarkan kritik, apalagi terhadap pemerintah mesti dilakukan secara terus menerus. Karena hal ini, akan membuat media itu semakin kuat. Tatkala menghadapi masalah-masalah serius.”Meskipun jika hal ini dilakukan tentunya ada konsekuensi logisnya, jika melecehkan tokoh politik tertentu. Akan tetapi hal itu wajar,”ujar dosen di Melbourne University Australia ini.
Hadir pula dalam acara yang diselenggarakan oleh SKM Amanat dan Kampoeng Sastra Suket Teki ini, Prie GS (Budayawan dan Praktisi Media) dan Prof Dr Abdul Jamil (Rektor IAIN Walisongo). Sebagai moderator Rosidi (Penulis).
Menurut Prie GS, konteks kebudayaan bangsa Indonesia saat ini, jika diilustrasikan, hidup dalam budaya yang rural agraris. Belum hidup dalam budaya yang ilmiah. Ia mencontohkan, kasus simpangsiur hilangnya pesawat AdamAir beberapa waktu lalu. Informasi yang tak bisa dipertanggungjawabkan bisa menjadi akurat. Bahkan dipercaya oleh banyak orang.”Nah, di sinilah, kebohongan bagi mental bangsa kita pun bisa menjadi informasi akurat!”ujarnya yang disambut derai tawa dari hadirin.
Prie GS mengungkapkan, kultur Indonesia masih sangat kental dengan nuansa budaya ngrumpi. Masyarakat masih dominan budaya oral alias ngomong dari pada menulis dan membaca, yang merupakan salah satu perdaban yang ilmiah. Segala sesuatu saat ini dari segi kemasan sudah siap tapi mental manusianya belum memadai. [Heri CS]

Sumber : Semarang, jatengNow.com/05 April 2007

Kiat menulis kreatif

15 Jun

Opini, Tajuk, Kolom
(sebuah uraian singkat)

Oleh Rosidi

Menulis opini (artikel) di media massa adalah pekerjaan yang mengasyikkan. Bukan sekadar karena uang (honor) yang akan kita terima atau kita akan dikenal oleh banyak orang karenanya. Lebih dari itu, kita juga telah berbagi ide (gagasan) tentang sebuah persoalan.
Dengan menulis opini, kita telah berbagi ilmu dengan para pembaca media yang bisa ribuan bahkan ratusan ribu jumlahnya. Karenanya, menulis opini sebenarnya merupakan wahana trasfer of knowledge yang sangat efektif, daripada seorang guru atau dosen yang mengajar di sebuah kelas, dengan paling banter 40 – 50 audiens saja.
Lalu, siapakah yang boleh menulis artikel dan persoalan apa saja yang bisa ditulis menjadi artikel (opini) ?
Artikel (opini) adalah pendapat atau gagasan pribadi seseorang yang disajikan dengan menggunakan bahasa populer (bukan ilmiah) di media massa. Banyak aspek yang bisa diangkat dalam sebuah artikel baik itu masalah sosial, politik, ekonomi, agama, budaya, teknologi, kesehatan dan sebagainya.

Bagaimana mengawalinya?
Kebanyakan orang cenderung kebingungan, bagaimana mengawali menulis artikel. Kebingungan itu terkadang berimbas pada rasa tidak percaya diri, takut atau khawatir tulisannya dianggap jelek, sehingga kebanyakan takut memulai dan tidak pernah melakukannya.
Untuk itu, mentalitas sangat harus dibangun. Rasa percaya diri harus ditumbuhkan. Membaca, diskusi, berlatih dan begitu seterusnya, niscaya kemampuan untuk menulis itu akan tumbuh dengan sendirinya. Menulis bukan lah bakat. Menulis juga bukan sekadar teori. Karenanya harus dipelajari dan diasah terus menerus.
Lalu, apa saja yang harus dipersiapkan seseorang yang mau menulis opini? Teori yang lazim dikenal banyak orang, adalah :

A. menggali ide
kita mau menulis apa? Itu pertanyaan awal yang harus diajukan. Setelah ketemu, ada tema, maka cobalah analisis masalah (tema) yang akan kamu angkat dalam sebuah tulisan. Riset data. Diskusi lah dengan banyak orang. Sehingga analisis kamu terhadap tema itu benar – benar menjadi sebuah analisis kritis dan tajam, dengan tawaran solusi (problem solving) yang sangat brillian.

B. Membuat kerangka tulisan secara detail
membuat tulisan baik ilmiah maupun populer, sebenarnya sama saja. Pembukaan, isi (content) dan penutup. Kerangka dibuat adalah untuk memudahlan dan mensistematiskan tulisan agar runut dan enak dibaca.

C. Kumpulkan data dan refference (buku, majalah, koran, hasil penelitian dan lain sebagainya)
Data dan refference, berguna sekali untuk membangun analisis kita terhadap permasalahan yang akan kita tulis dan sebagai penguat analisis.

D. Mulailah Menulis
Terlalu banyak kita berteori. Sekarang, waktunya mulai menulis. Menulislah. Bebaskan pikiran anda untuk menganalisis masalah yang anda tulis. Sehingga, gagasan yang anda tawarkan nanti adalah gagasan original yang bermutu.

E. editing
Ini adalah proses yang harus dilakukan, untuk meneliti, apakah tulisan kita bagus atau nggak. Apakah sesuai dengan EYD? Atau, layak atau tidakkah tulisan yang kita buat itu, untuk dimuat di media massa?
Dalam mengedit tulisan, sebaiknya anda bisa mengajak kawan, senior, guru atau siapa saja yang bisa anda mintai komentar terhadap tulisan yang anda buat. Ajak mereka berdiskusi tentang tema tulisan anda. Dari situ, bisa dilihat, apa kekurangan dalam tulisan yang kita buat.

Yang harus diperhatikan

Ini juga teoritis. Tetapi barangkali ini masih penting bagi penulis pemula, agar mengetahui, bagaimana sih tulisan yang bagus?

· Aktual. Aktualitas harus kita perhatikan dalam menulis artikel. Bagi media massa, ini adalah “harga mati”. Karena permasalahan aktual lah yang membutuhkan banyak pemikiran untuk dicarikan solusinya. Lalu, bagaimana dengan permasalahan yang tidak aktual? Permasalahan yang tidak aktual itu suatu saat bisa menjadi aktual kembali, manakala ada momentum. Misalnya tema tentang RA. Kartini. Ini adalah wacana lama yang akan menjadi aktual kembali, ketika tanggal 21 April datang.

· Gunakan bahasa yang lugas. Jangan bertele-tele atau muter – muter. Karena selain membingungkan pembaca, tulisan itu akan menjadi kurang menarik karenanya.

· Kebaruan. Harus ada sesuatu yang baik itu data maupun pandangan (analisis) yang anda kemukakan. Jangan terlalu terhegemoni dengan memasukkan tokoh – tokoh besar dan pemikiranya dalam tulisan. Orisinalitas pemikiran justru akan diperhitungkan asal bagus, kritis, tajam, dan disertai solusi yang futuristik dan mencerdaskan.
· Kompetensi. Apakah anda orang yang berkompeten dalam menulis sebuah artikel? Kalau anda ahli agama, tentu tidak akan pernah dimuat jika menulis tentang kesehatan. Dan seterusnya …

Demikian. Serba teoritis. Penting sih … Namun harus diingat, teori bukanlah segala – galanya. Yang terpenting adalah bagaimana anda berlatih terus menerus. Praktek!

II. Tajuk (Editorial)
Sebenarnya antara tajuk dan opini nggak jauh berbeda. Sebagaimana opini, yang, aktualitas menjadi pertimbangan, Tajuk juga demikian. Bedanya adalah, kalau opini, semua orang bisa menulis. Sementara Tajuk (editorial), Pemimpin Redaksi lah yang berwenang dan mempunyai hak untuk menuliskannya. Karena Tajuk merupakan sikap redaksi terhadap masalah yang disorotinya.

III. Kolom
Kolom adalah tulisan sederhana tentang berbagai hal yang ada di sekitar kita. Tulisan ini biasanya menggunakan bahasa yang mudah dipahami, merakyat, kadang juga penuh canda.
Namun, menulis kolom tidaklah mudah. Karena ia harus peka terhadap lingkungan sosialnya. Apa saja bisa menjadi tulisan kolom. Banyaknya Anak – anak jalanan di sekitar Bangjo lalu lintas, di tangan Cak Nun akan menjadi kolom yang sangat analitis dan mengesankan. Dengan berbagai pandangan yang merakyat khas Kyai Kanjeng tentunya.
Banyaknya orang yang mengaji ke tempat seorang Habib di Kwitang Jakarta, di tangan Gus Dur, menjadi sebuah tulisan kolom yang menarik untuk dibaca. Lalu lalang Bus Kota, banyaknya pedagang dadakan, menjadi inspirasi tersendiri bagi Gus Dur untuk menuliskannya dalam sebuah kolom.
Nah, silakan anda menulis tentang apa saja di sekitar anda. Yakinlah bahwa anda bisa.

Kerja Sampingan agar Dapur tetap Ngepul

9 Jun

(Kisah Buruh Rokok di Kudus)

Azan shubuh baru saja usai. Namun Atun (34), warga Desa Jepang Mejobo Kudus, itu sudah beranjak bangun dari tidurnya. Ia segera ke kamar mandi, mengambil air wudlu lalu melaksanakan shalat Subuh.
Habis shubuh, jalanan di kota Kudus selalu ramai oleh para perempuan yang pergi bekerja di pabrik. Sepeda, motor dan angkutan, bergegas dan berpacu dengan gelap yang akan segera hilang.
Namun, Atun tidak segera mandi dan bersiap diri pergi ke pabrik. Karena ia harus menyiapkan sarapan bagi suami dan anaknya yang masih semata wayang terlebih dahulu.
Diambilnya beras. Ia pun mulai memasak. Lauk ala kadarnya disiapkan. Ia memasak dengan kompor minyak yang sangat sederhana. Sembari menunggu nasi matang, ia ke sumur mencuci pakaian.
Usai memasak dan mencuci pakaian, barulah ia mandi dan bersiap untuk pergi ke salah pabrik rokok. Dengan sepeda onthel miliknya, ia berpacu dengan waktu. Karena jam 06.00 Wib, ia harus sudah masuk kerja. Demikian, setiap hari ia harus melaksanakan rutinitas yang sangat melelahkan itu.
Bagaimana tidak melelahkan. Disamping disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga, ia bekerja sebagai buruh Giling di salah satu rokok yang cukup ternama di Kudus. Sepulang dari pabrik, ia pun tidak meluangkan waktunya buat istirahat sejenak.
Di rumah, sepulang kerja, ia membuat besek dan ekrak (kerajinan tangan dari bambu) untuk mencari tambahan rizki buat membantu suaminya, yang hanya berprofesi sebagai pembuat batu bata.
“Kerjo ning pabrik saiki ora iso dijagakno. Balike esuk. Paling jam 11.00 wis tekan omah. Yo, ketimbang ning omah nganggur. Tur yen ono opo – opo, mbuh loro utowo nglahirake, ono duite.” (Kerja di pabrik sekarang tidak bisa buat jaminan. Pulangnya pagi. Paling jam 11.00 sudah pulang. Ya, daripada nganggur. Lagian kalau di pabrik, kalau ada apa – apa seperti melahirkan, dapat tunjangan).
Begitulah penuturan Atun. Yang telah melakoni sebagai buruh di pabrik rokok sejak ia lulus dari Sekolah Dasar. Berat beban yang dipikulnya, seakan sudah tiada terasa. Karena di rumah, anaknya yang sebentar lagi ujian, membutuhkan uang. Sementara suami, kerja dengan penghasilan pas – pasan.
Beratnya menjadi buruh di pabrik rokok bagi perempuan di Kudus, tidak hanya dialami Atun. Tumini (45), warga Desa Gulang juga merasakan hal yang sama. “Pendapatan sekarang sedikit. Garapan cuma 2. dengan penghasilan Rp. 19.500 dibagi dengan bathil (yang bertugas merapikan rokok). Rp.8.500 untuk bathilnya. Selebihnya untuk Saya,” terangnya.
Meski berat, namun Tumini barangkali bisa lebih tenang karena kedua anaknya sudah lulus SMA. Berbeda dengan Atun yang masih memikirkan biaya pendidikan anaknya dan persiapan untuk anak keduanya yang akan lahir nantinya.
Hal yang tidak jauh berbeda dialami Rusmi (50). Warga Desa Getaspejaten yang sudah mempunyai seorang cucu ini sudah puluhan tahun jadi buruh pabrik rokok. Meski gaji tidak seberapa, namun ia tetap bertahan. Karena disamping umur, pendidikannya tidaklah tinggi.
Ya, bekerja sebagai buruh pabrik rokok bagi perempuan di kota Kudus, bukanlah pilihan. Tapi karena keadaan. Kebanyakan dari mereka pendidikannya rendah.
Namun begitu, meski gaji sedikit dan pekerjaan berat lain di rumah menanti sepulang kerja, mereka tetap bekerja dengan senyum dan ikhlas. Karena dapur mereka tetap harus mengepul. Anak – anak mereka memerlukan uang untuk biaya pendidikannya. Dan, tentu saja, untuk meringankan beban sang suami.(Rosidi)

Suara Merdeka
7 Juni 2007

Mantra Demokrasi

2 Jun

Demokrasi adalah cita – cita
Demokrasi adalah kekuasaan rakyat
Dimana kesejahteraan
Menjadi tujuan bersama

Namun …
Demokrasi kini
Telah menjadi mantra
Yang dipergunakan para penguasa
Untuk mengelabui
Dan menindas rakyatnya

Bagi penguasa
Rakyat hanyalah cecunguk
Yang pantas dikelabui
Dengan mantra demokrasi

: Demokrasi telah membodohi rakyat

Dimanakah pemerintah
Ketika rakyat kelaparan
dan kemiskinan merajalela?
Sementara utang luar negeri
banyak yang dikorupsi
padahal rakyat pula
yang harus melunasi

Dimanakah pemerintah
ketika berjuta generasi bangsa
tidak bisa sekolah
sementara masa depan
negara ini
kelak disematkan pada mereka

Demokrasi rakyat
kedaulatan rakyat
benarkah rakyat berdaulat?
benarkah negara kita
negara demokrasi?
sedang demokrasi sendiri
hanya menjadi wacana
dan ideologi
yang telah dijadikan mantra
untuk mengelabui
dan menindas rakyatnya

Kudus, 29 Mei 2007

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.