Arif Budiman: Parodi Politik Menguntungkan Kita
Keberadaan parodi politik yang ditayangkan oleh media televisi nasional perlu bagi bangsa Indonesia. Selain sebagai bagian dari forum kritik terhadap pihak yang dikritik dalam hal ini pemerintah. Juga menjadi ruang pembelajaran politik bagi pemirsa televisi. Sangat disayangkan jika pemerintah mesti mensomasi atau dalam hal ini sampai melarang tayangan tersebut.
Demikian disampaikan oleh Prof. Dr. Arif Budiman (Budayawan) pada acara Parodi Kritik dan Kebebasan Pers di Gedung Perputakaan Lantai II Kampus IAIN Walisongo Rabu (04/04) kemarin. Arif menambahkan media perlu membuat parodi-parodi politik semacam itu. Bukan hanya saat peminatnya (rating-red) tinggi, namun juga menjadi dinamika di tubuh pers itu sendiri.
Kebebasan berekspresi dalam mengeluarkan kritik, apalagi terhadap pemerintah mesti dilakukan secara terus menerus. Karena hal ini, akan membuat media itu semakin kuat. Tatkala menghadapi masalah-masalah serius.”Meskipun jika hal ini dilakukan tentunya ada konsekuensi logisnya, jika melecehkan tokoh politik tertentu. Akan tetapi hal itu wajar,”ujar dosen di Melbourne University Australia ini.
Hadir pula dalam acara yang diselenggarakan oleh SKM Amanat dan Kampoeng Sastra Suket Teki ini, Prie GS (Budayawan dan Praktisi Media) dan Prof Dr Abdul Jamil (Rektor IAIN Walisongo). Sebagai moderator Rosidi (Penulis).
Menurut Prie GS, konteks kebudayaan bangsa Indonesia saat ini, jika diilustrasikan, hidup dalam budaya yang rural agraris. Belum hidup dalam budaya yang ilmiah. Ia mencontohkan, kasus simpangsiur hilangnya pesawat AdamAir beberapa waktu lalu. Informasi yang tak bisa dipertanggungjawabkan bisa menjadi akurat. Bahkan dipercaya oleh banyak orang.”Nah, di sinilah, kebohongan bagi mental bangsa kita pun bisa menjadi informasi akurat!”ujarnya yang disambut derai tawa dari hadirin.
Prie GS mengungkapkan, kultur Indonesia masih sangat kental dengan nuansa budaya ngrumpi. Masyarakat masih dominan budaya oral alias ngomong dari pada menulis dan membaca, yang merupakan salah satu perdaban yang ilmiah. Segala sesuatu saat ini dari segi kemasan sudah siap tapi mental manusianya belum memadai. [Heri CS]
Sumber : Semarang, jatengNow.com/05 April 2007
Loading...