OPERA ZAMAN DI ALUN-ALUN KIDUL YOGYAKARTA
Setangkai bunga ilalang
Kupersembahkan padamu
Bila
Kau bisa
Menjaga bumi ini
Agar tetap bisa tersenyum
Itulah sebait puisi yang terbawa angin ke segenap orang yang
mengunjungi Alun-alun Kidul sayap barat daya Yogyakarta pada hari
sabtu, 9 September 2006. Puisi itu diucapkan Maria Bo Niok
(Komunitas Terminal Tiga) saat acara gathering anggota milis
Komunitas Merapi.
Acara gathering anggota milis Komunitas Merapi tahun 2006 ini
diselenggarakan untuk mengucap syukur atas terbentuknya milis
Komunitas Merapi setahun yang lalu, tepatnya tanggal 8 september
2005. Selain itu, tanggal 8 september juga diperingati sebagai hari
aksara internasional. Ketepatan tanggal yang tidak disengaja ini
memberi arti bahwa perjuangan milis Komunitas Merapi selanjutnya
adalah untuk mengentaskan buta aksara di Indonesia melalui kegiatan-
kegiatan yang diadakannya.
Setahun bukanlah waktu yang lama. Komunitas Merapi bekerjasama
dengan Komunitas Terminal Tiga pernah memberitakan di berbagai
media massa seputar kegiatan Proyek Penerbitan Kumcer Amal. Awal
maret tepatnya, kegiatan proyek kumcer amal ini mulai dipublikasikan
dan mendapatkan tanggapan yang bagus dari para penulis Indonesia.
Ada 170-an naskah yang masuk ke milis Komunitas Merapi dan dinilai
oleh tim penilai dari tim proyek kumcer amal ini. Dari 170-an naskah
yang masuk, hanya 20 naskah cerpen pilihan yang terpilih untuk
dimuat dalam buku kumpulan cerpen yang selanjutnya diberi judul
Opera Zaman.
Tepat pada tanggal 8 september 2006, Opera Zaman (Kumpulan Cerita
Petualangan) terbit dan siap beredar. Buku Opera Zaman ini
diterbitkan oleh Grafindo Litera Media-Yogyakarta. Penulis-penulis
terpilih yang masuk dalam buku Opera Zaman yaitu Sri Wulandari,
Yohanes Prayoga, Fina Sato, Indrian Koto, M.K.Wardaya, I Made A.A.,
Yeni Yuniawati, Wa Ode N.N., Edeng Syamsul M., Shinta Kerthasari,
Rio D.K., Etty A.H., Monica Dewi B.P., Abdullah Khusairi, Sesar
Fajar T., Rosidi, Shofa M., Panji Surya, Mindo Hutagaol dan Sony
Herdiana. Ke-20 penulis ini tidak mendapatkan royalty tetapi berhak
mendapatkan dua buku pilihan terbaik yang dikumpulkan oleh tim
proyek kumcer amal dan dua buku Opera Zaman. Hasil penjualan buku
ini disumbangkan untuk penyediaan buku-buku bacaan anak sekolah,
itulah yang tertulis di halaman belakang sampul buku dan itu pula
yang menjadi tujuan akhir dari Proyek Penerbitan Kumcer Amal yang
diadakan oleh Tim Proyek Penerbitan Kumcer Amal milis Komunitas
Merapi di tahun 2006.
“Ini merupakan kerja cerdas yang membahagiakan,” demikian kata
Gendhotwukir pembuat milis Komunitas Merapi saat menjadi moderator
dalam acara gathering. Mewakili pihak penerbit, Ellissiti juga
memberikan acungan jempol bagi penggagas ide Opera Zaman. “Saat
orientasi hidup materialisme semakin membuncah, Opera Zaman
berkiprah lain,” demikian ujarnya. Eko Sugiarto (Ugie) selaku tim
penilai naskah memaparkan proses penilaian dan bagaimana tim penilai
bekerja. Ia mengatakan bahwa bukanlah hal yang mudah untuk menilai
naskah-naskah cerita pendek yang masuk ke tim penilai melalui milis
Komunitas Merapi. Semua naskah mengandung nilai sastra dan sesuai
dengan tema petualangan yang diangkat oleh tim. Ia mengatakan bahwa
sebagian besar cerita pendek yang masuk ke milis Komunitas Merapi
mengangkat kisah seputar kehidupan pribadi penulis atau orang-orang
di sekitar penulis.
Acara gathering dan peluncuran Opera Zaman yang mengambil latar
hiruk pikuk kehidupan sekitar tempat wisata Masangin, Alun-alun
Kidul-Yogyakarta juga diikuti oleh 6 orang penulis yang cerpennya
dimuat dalam buku ini. Rosidi, Etty, Indrian, Sesar, I Made dan
Shofa menceritakan tentang proses kreatif mereka saat membuat cerita
pendek. Sambil tersenyum-senyum dan menikmati hidangan bajigur serta
jagung bakar, mereka sebagian besar mengiakan perkataan Ugie bahwa
semua ide mereka berawal dari kisah pribadi dan orang-orang di
sekitar mereka. Selain penulis Opera Zaman, akademisi, sastrawan,
pengelola rumah baca “River Castle” dan beberapa seniman lainnya
juga menghadiri acara ini. Mereka tidak hanya berasal dari
Yogyakarta, tetapi juga berasal dari Malang, Jombang, Manado,
Semarang, Pekalongan, Kudus, Wonosobo dan beberapa kota besar
lainnya di Indonesia. Junko Sato, peneliti dari Jepang yang juga
mahasiswi S3 Departemen Antropologi Budaya Universitas Tokyo hadir
dalam acara ini dan dia mengatakan kekagumannya atas Opera Zaman.
Kirdjito, budayawan ndeso dari Sumber-Muntilan juga menyempatkan
hadir bersama anggota theater dari lereng Komunitas Merapi. Beliau
mengatakan bahwa Komunitas Merapi tidak hanya beraktifitas di lereng
Gunung Merapi saja tetapi menjalar dan berbaur dengan masyarakat
hingga pantai Selatan sama seperti Gunung Merapi yang titik nolnya
diukur dari atas permukaan pantai laut Selatan.
Sejak diluncurkan pada hari sabtu, 9 september 2006 Opera Zaman
langsung dibeli oleh pecinta petualangan. Sepuluh buku perdana yang
dijual dengan harga Rp. 15.000,00 saat gathering menjadi awal bagi
pengumpulan dana yang akan disumbangkan untuk penyediaan buku-buku
bacaan anak sekolah. Opera Zaman sebagian besar menyiratkan tentang
budi pekerti yang luhur dari orang Indonesia dan keindahan alam
Indonesia yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Semua
kearifan lokal masyarakat Indonesia yang selama ini terpendam
disingkap dengan lugas dan tuntas tanpa basa-basi, maka buku ini
sangatlah layak untuk dibaca dan dijadikan teman perjalanan hidup
generasi penerus bangsa yang cinta budaya lokal dan alam Indonesia.
Dua minggu sejak tulisan ini muncul di media massa dan internet,
buku Opera Zaman yang berukuran 11,5 cm x 17,5 cm dengan tebal 192
halaman dan bergambar benih tanaman yang tumbuh dari ujung jari kaki
seorang petualang pada bagian sampul buku yang berwarna krim sudah
ada di toko-toko buku dengan harga yang terjangkau. Bergegaslah
selamatkan anak-anak Indonesia dari buta aksara. (s_sundah)
sumber: http://gunkid.multiply.com
Loading...
Clip video percuma..
http://mclip.wordpress.com
shawal - June 23, 2007 at 1:03 pm
[...] OPERA ZAMAN DI ALUN-ALUN KIDUL YOGYAKARTA [...]
Sekedar Celoteh » Blog Archive » OPERA ZAMAN DI ALUN-ALUN KIDUL YOGYAKARTA - September 16, 2008 at 8:31 am