Menulis sebagai Resource
ADA tulisan menarik minggu lalu. Rosidi, deklarator Empersemar, mantan Pemimpin Umum SKM Amanat IAIN Walisongo Semarang, Sabtu (10/5/08) menulis tentang ’’Bukan Sekadar Menulis’’. Intinya dia menceritakan tentang persoalan kemampuan menulis para mahasiswa, khususnya soal pers kampus di Jateng. Dikatakan, ’’Pers mahasiswa adalah kawah candradimuka bagi mahasiswa yang senang dengan dunia tulis-menulis’’. Menulis memang selama ini terkesan sangat berkaitan dengan dunia jurnalistik. Institusinya dalam kalangan mahasiswa jelas, yakni pers kampus. Pers kampus merupakan penyaluran segala bentuk ekspresi penulisan.
Kita akan melihat bahwa menulis adalah sebentuk sumber daya (resources). Sumber daya dimengerti sebagai energi kognitif, afektif, dan konatif untuk menghasilkan barang. Apa pun bentuk barang itu. Sebagai sumber daya, menulis sangat diperlukan untuk mendukung kompetensi seseorang di berbagai bidang. Apa pun bidang Anda, kemampuan menulis sangat diperlukan.
Menulis adalah kompetensi lain yang sangat dibutuhkan oleh setiap profesi karena menulis adalah energi simultan yang mencakup energi kesadaran. Menyusun kerangka karangan adalah efek kognisi, memperindah bahasa adalah manifestasi afeksi, dan mengayunkan jari-jemari di depan komputer adalah efek konasi.
Karena itu, ketika seseorang mengayunkan angka-aksara, maka pada saat yang sama ia mengkonstruksi konsep di balik jemarinya dan merangkai kata-kata sehingga menjadi indah. Menulis bukan sekadar keterampilan tangan. Bukan sekadar kemampuan bertahan di depan layar komputer atau di atas kursi. Sekali lagi, menulis ada-lah sumber daya yang selama ini dianggap merupakan bagian lain dari dunia profesional.
Tepat di titik ini perlu dikatakan bahwa menulis adalah kemampuan yang terlupakan karena selama ini analisis kompetensi terpusat pada kemampuan intelektual, spiritual, dan emosional. Bahwasanya menulis merupakan alat ukur yang bisa diajukan untuk melihat kapabilitas seseorang.
Ketika Anda keluar dari kampus dan menjadi seorang ekonom, maka diperlukan kemampuan menulis untuk menjelaskan konsep-konsep tentang pertumbuhan ekonomi makro dan mikro.
Bagi dosen sendiri sudah sa-ngat jelas. Dosen apa pun Anda tetap perlu kemampuan untuk menulis agar pembaca, mahasiswa, atau relasi dalam satu bidang tertentu mampu memahami keahlian Anda. Keahlian dicerminkan dari hasil tulisan.
Sampai sejauh ini, kompetensi menulis dapat dibagi menjadi dua.
Pertama, kompetensi untuk dunia kepenulisan itu sen-diri, misalnya jurnalistik, penulis profesional, penyair, novelis, dan cerpenis.
Kedua, kompetensi untuk mendukung keahlian bidang lain, misalnya kemampuan menulis seorang untuk menuangkan gagasan-gagasan kedokteran, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan sejenisnya. Kompetensi ini mau tidak mau harus dimiliki oleh setiap orang yang hendak mengaktualisasikan dirinya ke depan publik.
Kompetensi menulis berusaha menjawab kebutuhan di ma-sa mendatang.
Perusahaan perlu pembangunan citra dari figur-figur yang menjadi pe-mimpinnya melalui penulisan. Kompetensi menulis juga menjawab kesulitan dalam merumuskan konsep-konsep corporate culture yang sekarang harus dirumuskan secara efektif, cermat, dan gampang dingat. CSR (Corporate Social Res-ponsibility) bukan sekadar sumbangsih perusahan terhadap masyarakat, tetapi memerlukan konsep-konsep penulisan yang tepat sasaran bagi pembaca. Ini tentulah bukan sekadar kemampuan sambil lalu. (80)
– Saifur Rohman, pengasuh FHK.
Suara Merdeka
17 Mei 2008
Loading...