Archive | October, 2010

Koin Cinta Untuk Pramoedya

10 Oct

Banyak yang menyayangkan, jika rumah keluarga Toer atau keluarga besar sastrawan Pramoedya Ananta Toer di Jalan Sumbawa No 14 Blora, dijual. Tidak hanya tokoh-tokoh seniman dan budayawan asal Bumi Gagak Rimang ini saja yang merasa kehilangan, juga sastrawan dan budayawan di Indonesia.
Sunlie Thomas Alexander, cerpenis yang juga peneliti di Parikesit Institute, Yogyakarta, saat dihubungi Suara Merdeka, Jumat (8/10), juga menyatakan hal sama. “Saya tidak banyak tahu tentang rumah keluarga Pram. Tapi tentang kiprah Pram di dunia sastra Indonesia dan dunia, sangatlah besar. J

Pameran foto dan gambar RA Kartini - Pramoedya Ananta Toer pada peringatan empat tahun meninggalnya Pram

adi, sangat disayangkan jika rumah sastrawan terkemuka itu dijual,” katanya.
Ia pun berharap, ada solusi yang terbaik untuk ‘monumen kecil’ Pram yang menjadi salah satu saksi dari proses kreatifnya menjadi seorang sastrawan yang sangat dikagumi di dunia. “Pasti ada solusi. Memang ini harus dibicarakan dengan banyak pihak,” tambah Sunlie.
Punky Adi Sulistyo, seniman patung Blora ini bahkan menilai, rumah keluarga Pram itu layak dijadikan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB) yang harus dilindungi. “Rumah itu memiliki nilai sejarah. Rumah cikal bakal Pram menjadi seorang sastrawan besar,” ungkapnya.
Namun, Punky cuma bisa berdoa agar rencana itu menjual rumah itu batal. Apalagi setelah salah satu seniman yang cukup dekat dengan Soesilo Toer (adik Pram) ini mengetahui dari cerita adik Pram sendiri, bahwa ada faktor internal keluarga, sehingga ada kata sepakat sebagian besar keluarga sang sastrawan itu untuk menjual harta pusaka itu.
Harta pusaka (warisan) berupa tanah dan rumah dari orang tua keluarga besar Toer (Mastoer – Oemi Saidah). Keluarga besar Toer pun, seakan tak bisa dilepaskan dari nama besar Pramoedya Ananta Toer.
Rumah dengan halaman yang cukup luas itu, saat ini cukup terawat sekembalinya Soesilo Toer dari Jakarta dan menetap di Blora. Selain perpustakaan yang diberi nama Pataba yang merupakan akronim dari Pramoedya Ananta Toer asli Blora, halaman rumah tersebut juga nampak hijau oleh tanaman dan pohon jati.
Beberapa kegiatan sastra yang cukup menarik para sastrawan dan budayawan, juga sudah beberapa kali digelar. Di antaranya sebuah acara “1000 Wajah Pram” dan kegiatan yang belum lama ini juga digelar, yaitu memperingati empat tahun meninggalnya penulis “Bumi Manusia” itu.

Koin Cinta
Kepada Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (DKPPOR) Blora Pudiyatmo belum mampu menjanjikan apapun terkait rencana pihak keluarga besar Toer melego rumah warisan orang tuanya. Namun begitu, ia juga sangat menyayangkan jika rumah tersebut dijual.
“Kami akan mengundang banyak pihak untuk berbicara masalah ini. Tetapi menurut saya, rumah itu harus dipertahankan, karena mempunyai nilai yang sangat tinggi dan melekat dengan salah satu legenda sastrawan dunia asli Blora,” paparnya.
Kemarin, sebuah sms bernada prihatin juga diterima Suara Merdeka, yang intinya meminta untuk membuat gerakan mempertahankan rumah Pram. “Kita bikin gerakan koin cinta Pram, mas,” demikian sms yang diterima ke Suara Merdeka.
Eko Arifianto, salah satu pegiat Lembaga Kajian Budaya Pasang Surut, juga berharap agar ada gerakan yang serupa koin peduli Pram untuk menyelamatkan “monumen sastra” yang dimiliki oleh Blora itu.
“Rumah tersebut memiliki nilai historis yang sangat tinggi kaitannya dengan dunia sastra. Tidak hanya dikenal di tanah air, Pram juga sangat dihormati di dunia sastra dunia,” ujarnya.
Menurutnya, harus ada upaya untuk menyelamatkan rumah keluarga Toer itu agar tidak dijual. “Sangat mungkin dilakukan penggalangan dana semacam koin cinta Pram. Saya yakin banyak masyarakat yang tergerak untuk membantunya,” katanya.
Ya, Pram memang bukan hanya milik Blora dan Indonesia saja. Karya-karyanya telah membuat sosok ini menjadi milik dunia, khususnya di bidang sastra. Maka, koin cinta peduli Pram, bukanlah hal yang mustahil muncul di beberapa daerah di Indonesia, bahkan di berbagai negara, untuk mendukung agar rumah itu tidak terjual.
Satu pertanyaan yang muncul kemudian, apakah masyarakat dan pemerintah kabupaten Blora akan rela kehilangan rumah yang memiliki nilai tinggi, dan telah menjadikan kota kaya minyak ini dihormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia? Atau, koin cinta Pram itu yang nantinya akan menyelamatkan rumah keluarga Toer itu, agar tidak terjual. (Rosidi)

Mempertahankan “Monumen Sastra” Pramoedya Ananta Toer

10 Oct

Kabar soal rencana penjualan rumah keluarga Toer (Mastoer) yang Suara Merdeka terima dari Soesilo Toer, salah seorang adik Pramoedya Ananta Toer (Pram), sekitar dua bulan lalu, ternyata bukan gurauan. Kepastian rencana menjual rumah itu Suara Merdeka dapatkan setelah mendengar kabar, Koesalah Soebagyo Toer, mengirimkan sebuah surat yang meminta pertimbangan terkait rencana tersebut.
Surat tertanggal 17 Agustus 2010 itu dikirim oleh Koesalah kepada Eko Arifianto (Kokok), salah satu pegiat Lembaga Kajian Budaya Pasang Surut, Blora. “Aku terima kabar itu dari Pak Koesalah lewat pak Soes (Soesilo Toer-Red) September lalu,” kata Kokok yang saat dihubungi sedang berada di Ngawi, Jawa Timur, menungu istrinya yang diperkirakan akan melahirkan dalam waktu dekat.
Soesilo yang ditemui di rumahnya di Jalan Sumbawa No 14, Kelurahan Jetis, Blora, sekali lagi menyatakan bahwa kabar soal rencana menjual rumah keluarga Toer itu memang benar. “Kesepakatan untuk menjual rumah ini mencuat dalam musyawarah keluarga besar Toer di rumah Herman (suami Koesaisah Toer) di Jalan Utan Kayu, Jakarta.
Dalam musyawarah yang dihadiri keluarga besar Toer tersebut, sepakat menjual rumah dan hasilnya dibagi rata, seperti umumnya harta warisan lainnya. Selain itu, salah seorang adik Pram yang sedang sakit sejak sekitar enam tahun terakhir, membutuhkan uang untuk berobat dan kebutuhan keluarga lainnya.
Rumah keluarga Toer di Jalan Sumbawa No 14 Blora itu berupa tanah seluas 3.315 meter dengan bangunan utama berupa rumah seluas 300 meter. Selain itu, ada sebuah rumah kecil lagi disamping rumah utama, yang dalam keseharian, dijadikan sebagai Perpustakaan yang diberi nama Pataba, dan dikelola oleg Soesilo Toer.
Di rumah yang dibangun oleh pasangan Mastoer dan Oemi Saidah pada 1925 itulah, Pram kecil dibesarkan. “Pram lahir di Mlangsen dan dibesarkan di rumah ini,” ujar Soesilo Toer.

Angkat Citra
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925 dan meninggal di Jakarta, 30 April 2006. Sastrawan yang meninggal dalam umur 81 tahun itu terbilang sangat produktif. Berdasarkan catatan http://id.wikipedia.org, selama hidupnya, Pramoedya menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.
Di antara karya Pram adalah Sepoeloeh Kepala Nica (1946), Perburuan (1950), Percikan Revolusi (1951), Bukan Pasarmalam (1951), Cerita dari Blora (1952), Midah Si Manis Bergigi Emas (1954), Cerita Calon Arang (1957), Gadis Pantai (1962-1965), Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985), dan Sang Pemula (1985).
Dengan berbagai karyanya itu, ia telah mengolekasi berbagai penghargaan. Seperti Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS (1988), Wertheim Award dari Leiden, Belanda (1995), UNESCO Madanjeet Singh Prize dari UNESCO, Perancis (1996), dan Ramon Magsaysay Award dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina (1995), meski menuai polemik dan protes dari sejumlah sastrawan di tanah air, waktu itu.
Punky Adi Sulistyo, salah seorang seniman Blora lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), mengemukakan, Pram telah berjasa besar mengakat citra Blora lewat karya-karyanya. “Pram banyak mengenalkan Blora lewat karya-karyanya, namun sampai saat ini, di Blora, tidak ada satu prasasti atau apapun yang mengingatkan akan sastrawan besar yang sangat dihormati di dunia internasional itu,” tuturnya.
Selain Punky, Eko Arifianto, pegiat Lembaga Kajian Budaya Pasang Surut bahkan dengan tegas menyatakan Pram sebagai satu dari dua tokoh Blora yang dikenal di dunia. “Di Blora ini ada dua tokoh yang sangat dikenal, pertama Samin Surosentiko dan kedua adalah Pram,” ujarnya.
Karena itu, menjual rumah masa kecil pram, tidak sekadar mengubur nama sastrawan besar itu, namun mengubur Blora secara umum dalam bidang susastra di dunia. “Kalau tidak ada sesuatu pun yang bisa mengingat tentang Pram, maka Blora akan tenggelam dan tidak akan dikenal,” paparnya.
Direktur Lembaga Penelitian dan Aplikasi Wacana (LPAW) Blora Dalhar Muhammadun pun menyayangkan jika rumah mendiang Mastoer yang dalam bahasa Punky disebut sebagai “rumah masa kecil Sang Maestro” Pram itu benar-benar akan dijual. “Seandainya kabar ini benar, selayaknya harus dievaluasi ulang,” tegasnya. (Rosidi)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.