Archive | January, 2011

Jadi Pakar Adenium Berkat Membaca

25 Jan

Jangan pernah meremehkan manfaat membaca. Karena dari sana, barangkali tidak sekadar ilmu (pengetahuan) baru yang akan Anda dapatkan, tetapi bisa juga itu akan menunjukkan jalan rizki anda selanjutnya.
M Selem, bapak dua anak kelahiran Gresik 27 Agustus 54 tahun silam itu, salah satu yang telah merasakan manfaat membaca. Berawal dari kegemarannya membaca bagaimana merawat dan mengembangkan adenium (bunga kamboja) di salah satu majalah, kini ia pun sudah menjadi pakar yang tak lagi banyak waktu beristirahat, karena banyaknya panggilan.
“Saya berkecimpung di adenium sejak 2001. Saya memilih mengembangkan adenium, karena banyak orang yang suka, mulai dari orang biasa, sampai orang kaya juga suka,” katanya.

berawal dari kegemarannya membaca, Selem kini jadi pakar adenium

Blora dipilihnya sebagai tempat mengadu nasib dan mengembangkan usaha adenium-nya, karena kondisinya yang cukup panas, sehingga sangat cocok untuk pengembangan bungan jenis adenium ini.
Di Kota Satai ini, suami Parisi yang juga bapak dari Ninik Musripah dan Amin Joko Prayogo, ini tinggal di rumah Taslan, pensiunan Polri yang juga beberapa kali menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Blora. “Saya tinggal di sini. Dikasih tempat sama Bapak Taslan. Sebagai gantinya, saya diminta membantu merawat bunganya,” terangnya saat ditemui di kebun adeniumnya di Kelurahan Bangkle.

Banyak Permintaan
Prediksi Selem memang tidak meleset. Sejak pertama bergelut dengan adenium hingga saat ini, permintaan terhadap bunga itu tak pernah sepi. “Kalau ada silangan baru, pelanggan pasti minta,” terangnya.
Kini, adenium pun sudah memiliki jenis yang sangat variatif (beragam). Di antaranya triple black angel, jingle bell, triple santa claus, valintine rose, double white, double sakura, teamo, dan triple amazing.
“Harganya juga sangat variatif. Yaitu antara Rp 10.000 per stek hingga Rp 20.000 per stek. Namun untuk yang sudah dalam pot, harga berbeda. Untuk kelopak satu harganya Rp 100.000, sementara adenium tumpuk tiga seharga Rp 350.000,” paparnya.
Pada giliran selanjutnya, Selem pun tidak sekadar menjual bunga. Ia juga melayani jasa perawatan dan stek adenium dari rumah ke rumah. “Banyak panggilan untuk melakukan penyetekan dari rumah ke rumah. Untuk ini, per stek adalah Rp 50.000.”
Selain Blora, menurutnya, banyak permintaan juga dari Bojonegoro, bahkan ada juga teman-temannya yang memintanya untuk pindah ke sana. Namun ia tidak meu meninggalkan Blora, karena sudah memiliki pelanggan yang jelas, dan jasanya sangat dibutuhkan untuk merawat adenium, mulai dari orang biasa hingga pejabat-pejabat di Blora.
“Adenium banyak dicari orang dan tidak pernah sepi. Blora sangat prospek dan saya sudah memiliki pelanggan yang jelas,” kata warga RT 3 RW V Desa Kesamben Kulon, Kecamatan Wringinanom, Gresik, ini. Ya, dari membaca, Selem pun kini menjadi pakar adenium yang sangat sibuk memenuhi panggilan pelanggan yang membutuhkan jasanya. (Rosidi)

Kerling Mata Sang Naga di Parade Barongan Blora

25 Jan

Aha, kerling matanya sungguh nakal. Ia mengedipkan matanya ke sana kemari, menggoda lautan manusia yang hadir di alun-alun Blora, Sabtu (15/1) pagi. Sesekali, ia berlari memutar, mengelilingi ruang yang sengaja dibiarkan kosong itu.
Masyarakat pun gemas dengan tingkahnya. Tak ayal, ribuan pasang mata pun terkadang tidak bisa menahan senyum, dan sesekali tertawa melihat tingkah itu. Tak terkecuali Bupati Djoko Nugroho, Wakil Bupati H Abu Nafi, Direktur Umum Bank Jateng Bambang Widyanto, serta beberapa tamu penting lain yang hadir dan duduk di panggung kehormatan.
Ya, itulah ‘godaan’ nakal sang naga dalam group barongsai dari Hok Tik Bio, saat tampil menjadi salah satu bintang tamu dalam parade barongan Blora yang digelar kerjasama Bank Jateng dan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (DKPPOR) Blora.
Parade barongan Blora tersebut dalam rangka memeriahkan undian Tabungan Bima Bank Jateng, yang dilakukan pada Sabtu malam di pendapa rumah dinas bupati. Sebelum kelompok barongsai dari Hok Tik Bio, tampil pula group barongan Risang Guntur Seto pimpinan Adi Wibowo.
Sebagaimana penampilan barongsai, decak kagum masyarakat tak dapat disembunyikan saat Risang Guntur Seto tampil. “Keren banget, ya, mas. Mantep banget,” celetuk salah seorang warga.

21 Group
Parade barongan itu diikuti oleh 21 group barongan dari berbagai kecamatan yang ada di Blora. “Atas anam keluarga besar Bank Jateng, kami menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya parade barongan yang diikuti oleh 21 group dan Risang Guntur Seto serta group Barongsai dari Hok Tik Bio sebagai

atraktif

bintang tamu,” kata Direktur Umum Bank Jateng, Bambang Widyanto, saat membacakan sambutan tertulis Direktur Utama Bank Jateng, Hariyono.
Dikemukakannya, dipilihnya barongan untuk memeriahkan pengundian tabungan Bima, karena seni tradis itu sudah sangat mengakar di masyaralat setempat. “Dipilihnya kesenian barongan ini sebagai rangkaian pengundian Tabungan Bima, karena menurut penelitian pakar, barongan merupakan kesenian asli dari Blora,” lanjutnya.
Karena itulah, Bank Jateng ikut tergerak untuk ikut mendorong keberadaan seni barongan ini. “Masyakat Jateng, khususnya masyarakat Blora, mempunyai tanggungjawab moril untuk ikut melestarikan keberadaan seni baringan ini,” tegasnya.
Kepala DKPPOR, Pudiyatmo, mengemukakan, dengan terselenggaranya parade barongan ini, diharapkan bisa menjadi tonggak semangat berkembangnya barongan Blora, dan ke depan, diharapkan mampu mengangkat seni budaya barongan Blora di kancah nasional maupun mancanegara.
“Ini adalah seni tradisi yang harus kita uri-uri. Kita memiliki tanggungjawab besar untuk ini sebagai warga Blora. Dalam rangka itu pula, pada April mendatang, kita juga telah merencanakan melakukan pemecahan rekor,” tegas Pudiyatmo.
Lima penampil terbaik dalam parade barongan tersebut, yaitu Sekarjoyo (Kunden), lalu Kridhomudo (Cepu), disusul Simolangen Budoyo (Banjarejo), kemudian Cahyo Budoyo (Sambong), dan Sindungriwut (Doplang). [Rosidi]

Inspirasi dari Erupsi Merapi

25 Jan

narsis abis

Semburan awan panas atau yang lebih dikenal dengan ‘wedhus gembel’ dari erupsi Gunung Merapi, belum lama ini, memang menyisakan kesedihan dan korban yang tidak sedikit. Tetapi di Kudus, wedhus gembel ini justru menginspirasi sejumlah pelajar sebagai komunitas yang mereka dirikan.
Mereka adalah siswa-siswi Madrasah Aliyah (MA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Hasyim Asyari 2, yang beralamat di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog. “Kami sepakat menamakan komunitas kami dengan komunitas wedhus gembel. Biar mudah mengingatnya,” ujar Noviana Uchtiya Zulfa, koordinator komunitas tersebut.
Bidang yang ditekuni adalah bidang penulisan. “Kebetulan kami senang menulis. Hobi ini didukung oleh Bapak Kepala Sekolah dan Bapak Ketua Yayasan, jadi kami makin semangat,” lanjutnya yang diamini Abdur Rohim.
Kegiatan-kegiatan intelektual mereka lakukan. Jumat, adalah hari wajib bagi mereka untuk kumpul, mendiskusikan tulisan-tulisan yang kami buat. “Semua anggota wajib menulis, dan dalam pertemuan, dibahas bersama. Kalau dirasa layak, kita akan mencoba mengirimkannya ke media massa,” ujar Novi yang juga bergelut di dunia teater.

Wejangan
Selain hari wajib, yaitu Jumat, komunitas ini selalu bersama-sama di perpustakaan sekolah untuk belajar bareng. “Hampir tiap hari kami berkumpul di perpustakaan untuk membaca-baca buku dan barangkali ada teman yang minta tulisannya dikritisi,” Khaiyun Rohmaniah menambahkan.
Adakah tujuan dengan berhimpunnya mereka dalam komunitas yang kemudian mereka namanya wedhus gembel? “Pertama, kami menanamkan diri untuk semangat belajar, tidak hanya membaca, tetapi juga mentradisikan menulis. Artikel. Puisi. Cerpen. Karikatur. Apapun,” ungkap Mirzaqus Shobiyah yang disambut anggukan kawan-kawannya yang lain.
Belum lama ini, mereka juga menggelar diskusi dengan menghadirkan Qomarul Adib, aktivis Ketua Ansor Anak Cabang (Ancab) Gebog di salah satu ruang kelas. “Ada tiga hal yang akan Anda dapatkan dengan menulis,” tegas Qomar.
Tiga hal tersebut, menurut pengelola Tabloid Bumi itu, adalah intelektualitas, popularitas, dam finansial. “Secara otomatis, kemampuan menulis itu mensyaratkan seseorang untuk banyak membaca. Ini tentu akan menambah daya intelektual kita,” imbuhnya.
Sementara untuk popularitas, yaitu bilamana seseorang menulis artikel di sebuah media massa dan dimuat, maka tidak hanya satu orang yang akan membaca, melainkan ratusan ribu, bahkan jutaan orang. “Kalau dimuat, tentu juga dapat honor. Inilah aspek finansialnya. Namun ini butuh proses yang sangat panjang, maka semangatlah belajar,” pesannya memberikan motivasi. [ros]

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.