Koin Cinta Untuk Pramoedya

Banyak yang menyayangkan, jika rumah keluarga Toer atau keluarga besar sastrawan Pramoedya Ananta Toer di Jalan Sumbawa No 14 Blora, dijual. Tidak hanya tokoh-tokoh seniman dan budayawan asal Bumi Gagak Rimang ini saja yang merasa kehilangan, juga sastrawan dan budayawan di Indonesia.
Sunlie Thomas Alexander, cerpenis yang juga peneliti di Parikesit Institute, Yogyakarta, saat dihubungi Suara Merdeka, Jumat (8/10), juga menyatakan hal sama. “Saya tidak banyak tahu tentang rumah keluarga Pram. Tapi tentang kiprah Pram di dunia sastra Indonesia dan dunia, sangatlah besar. J

Pameran foto dan gambar RA Kartini - Pramoedya Ananta Toer pada peringatan empat tahun meninggalnya Pram

adi, sangat disayangkan jika rumah sastrawan terkemuka itu dijual,” katanya.
Ia pun berharap, ada solusi yang terbaik untuk ‘monumen kecil’ Pram yang menjadi salah satu saksi dari proses kreatifnya menjadi seorang sastrawan yang sangat dikagumi di dunia. “Pasti ada solusi. Memang ini harus dibicarakan dengan banyak pihak,” tambah Sunlie.
Punky Adi Sulistyo, seniman patung Blora ini bahkan menilai, rumah keluarga Pram itu layak dijadikan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB) yang harus dilindungi. “Rumah itu memiliki nilai sejarah. Rumah cikal bakal Pram menjadi seorang sastrawan besar,” ungkapnya.
Namun, Punky cuma bisa berdoa agar rencana itu menjual rumah itu batal. Apalagi setelah salah satu seniman yang cukup dekat dengan Soesilo Toer (adik Pram) ini mengetahui dari cerita adik Pram sendiri, bahwa ada faktor internal keluarga, sehingga ada kata sepakat sebagian besar keluarga sang sastrawan itu untuk menjual harta pusaka itu.
Harta pusaka (warisan) berupa tanah dan rumah dari orang tua keluarga besar Toer (Mastoer – Oemi Saidah). Keluarga besar Toer pun, seakan tak bisa dilepaskan dari nama besar Pramoedya Ananta Toer.
Rumah dengan halaman yang cukup luas itu, saat ini cukup terawat sekembalinya Soesilo Toer dari Jakarta dan menetap di Blora. Selain perpustakaan yang diberi nama Pataba yang merupakan akronim dari Pramoedya Ananta Toer asli Blora, halaman rumah tersebut juga nampak hijau oleh tanaman dan pohon jati.
Beberapa kegiatan sastra yang cukup menarik para sastrawan dan budayawan, juga sudah beberapa kali digelar. Di antaranya sebuah acara “1000 Wajah Pram” dan kegiatan yang belum lama ini juga digelar, yaitu memperingati empat tahun meninggalnya penulis “Bumi Manusia” itu.

Koin Cinta
Kepada Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (DKPPOR) Blora Pudiyatmo belum mampu menjanjikan apapun terkait rencana pihak keluarga besar Toer melego rumah warisan orang tuanya. Namun begitu, ia juga sangat menyayangkan jika rumah tersebut dijual.
“Kami akan mengundang banyak pihak untuk berbicara masalah ini. Tetapi menurut saya, rumah itu harus dipertahankan, karena mempunyai nilai yang sangat tinggi dan melekat dengan salah satu legenda sastrawan dunia asli Blora,” paparnya.
Kemarin, sebuah sms bernada prihatin juga diterima Suara Merdeka, yang intinya meminta untuk membuat gerakan mempertahankan rumah Pram. “Kita bikin gerakan koin cinta Pram, mas,” demikian sms yang diterima ke Suara Merdeka.
Eko Arifianto, salah satu pegiat Lembaga Kajian Budaya Pasang Surut, juga berharap agar ada gerakan yang serupa koin peduli Pram untuk menyelamatkan “monumen sastra” yang dimiliki oleh Blora itu.
“Rumah tersebut memiliki nilai historis yang sangat tinggi kaitannya dengan dunia sastra. Tidak hanya dikenal di tanah air, Pram juga sangat dihormati di dunia sastra dunia,” ujarnya.
Menurutnya, harus ada upaya untuk menyelamatkan rumah keluarga Toer itu agar tidak dijual. “Sangat mungkin dilakukan penggalangan dana semacam koin cinta Pram. Saya yakin banyak masyarakat yang tergerak untuk membantunya,” katanya.
Ya, Pram memang bukan hanya milik Blora dan Indonesia saja. Karya-karyanya telah membuat sosok ini menjadi milik dunia, khususnya di bidang sastra. Maka, koin cinta peduli Pram, bukanlah hal yang mustahil muncul di beberapa daerah di Indonesia, bahkan di berbagai negara, untuk mendukung agar rumah itu tidak terjual.
Satu pertanyaan yang muncul kemudian, apakah masyarakat dan pemerintah kabupaten Blora akan rela kehilangan rumah yang memiliki nilai tinggi, dan telah menjadikan kota kaya minyak ini dihormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia? Atau, koin cinta Pram itu yang nantinya akan menyelamatkan rumah keluarga Toer itu, agar tidak terjual. (Rosidi)

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s