Mempertahankan “Monumen Sastra” Pramoedya Ananta Toer

Kabar soal rencana penjualan rumah keluarga Toer (Mastoer) yang Suara Merdeka terima dari Soesilo Toer, salah seorang adik Pramoedya Ananta Toer (Pram), sekitar dua bulan lalu, ternyata bukan gurauan. Kepastian rencana menjual rumah itu Suara Merdeka dapatkan setelah mendengar kabar, Koesalah Soebagyo Toer, mengirimkan sebuah surat yang meminta pertimbangan terkait rencana tersebut.
Surat tertanggal 17 Agustus 2010 itu dikirim oleh Koesalah kepada Eko Arifianto (Kokok), salah satu pegiat Lembaga Kajian Budaya Pasang Surut, Blora. “Aku terima kabar itu dari Pak Koesalah lewat pak Soes (Soesilo Toer-Red) September lalu,” kata Kokok yang saat dihubungi sedang berada di Ngawi, Jawa Timur, menungu istrinya yang diperkirakan akan melahirkan dalam waktu dekat.
Soesilo yang ditemui di rumahnya di Jalan Sumbawa No 14, Kelurahan Jetis, Blora, sekali lagi menyatakan bahwa kabar soal rencana menjual rumah keluarga Toer itu memang benar. “Kesepakatan untuk menjual rumah ini mencuat dalam musyawarah keluarga besar Toer di rumah Herman (suami Koesaisah Toer) di Jalan Utan Kayu, Jakarta.
Dalam musyawarah yang dihadiri keluarga besar Toer tersebut, sepakat menjual rumah dan hasilnya dibagi rata, seperti umumnya harta warisan lainnya. Selain itu, salah seorang adik Pram yang sedang sakit sejak sekitar enam tahun terakhir, membutuhkan uang untuk berobat dan kebutuhan keluarga lainnya.
Rumah keluarga Toer di Jalan Sumbawa No 14 Blora itu berupa tanah seluas 3.315 meter dengan bangunan utama berupa rumah seluas 300 meter. Selain itu, ada sebuah rumah kecil lagi disamping rumah utama, yang dalam keseharian, dijadikan sebagai Perpustakaan yang diberi nama Pataba, dan dikelola oleg Soesilo Toer.
Di rumah yang dibangun oleh pasangan Mastoer dan Oemi Saidah pada 1925 itulah, Pram kecil dibesarkan. “Pram lahir di Mlangsen dan dibesarkan di rumah ini,” ujar Soesilo Toer.

Angkat Citra
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925 dan meninggal di Jakarta, 30 April 2006. Sastrawan yang meninggal dalam umur 81 tahun itu terbilang sangat produktif. Berdasarkan catatan http://id.wikipedia.org, selama hidupnya, Pramoedya menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.
Di antara karya Pram adalah Sepoeloeh Kepala Nica (1946), Perburuan (1950), Percikan Revolusi (1951), Bukan Pasarmalam (1951), Cerita dari Blora (1952), Midah Si Manis Bergigi Emas (1954), Cerita Calon Arang (1957), Gadis Pantai (1962-1965), Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985), dan Sang Pemula (1985).
Dengan berbagai karyanya itu, ia telah mengolekasi berbagai penghargaan. Seperti Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS (1988), Wertheim Award dari Leiden, Belanda (1995), UNESCO Madanjeet Singh Prize dari UNESCO, Perancis (1996), dan Ramon Magsaysay Award dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina (1995), meski menuai polemik dan protes dari sejumlah sastrawan di tanah air, waktu itu.
Punky Adi Sulistyo, salah seorang seniman Blora lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), mengemukakan, Pram telah berjasa besar mengakat citra Blora lewat karya-karyanya. “Pram banyak mengenalkan Blora lewat karya-karyanya, namun sampai saat ini, di Blora, tidak ada satu prasasti atau apapun yang mengingatkan akan sastrawan besar yang sangat dihormati di dunia internasional itu,” tuturnya.
Selain Punky, Eko Arifianto, pegiat Lembaga Kajian Budaya Pasang Surut bahkan dengan tegas menyatakan Pram sebagai satu dari dua tokoh Blora yang dikenal di dunia. “Di Blora ini ada dua tokoh yang sangat dikenal, pertama Samin Surosentiko dan kedua adalah Pram,” ujarnya.
Karena itu, menjual rumah masa kecil pram, tidak sekadar mengubur nama sastrawan besar itu, namun mengubur Blora secara umum dalam bidang susastra di dunia. “Kalau tidak ada sesuatu pun yang bisa mengingat tentang Pram, maka Blora akan tenggelam dan tidak akan dikenal,” paparnya.
Direktur Lembaga Penelitian dan Aplikasi Wacana (LPAW) Blora Dalhar Muhammadun pun menyayangkan jika rumah mendiang Mastoer yang dalam bahasa Punky disebut sebagai “rumah masa kecil Sang Maestro” Pram itu benar-benar akan dijual. “Seandainya kabar ini benar, selayaknya harus dievaluasi ulang,” tegasnya. (Rosidi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s