Dilarang Pakai Nama Karena Dianggap Lekra

– cerita Dibalik Penerjemahan Musashi

Siapa tak kenal Musashi, sebuah karya monumental karya Eiji Yoshikawa? Dalam edisi terjemahan Bahasa Indonesia, Musashi ini terbit dalam tiga bentuk. Pertama kali, Musashi edisi Indonesia ini dimuat secara berseri di Harian Kompas pada awal 1980-an, lalu pada 1985, diterbitkan dalam tujuh jilid. Terakhir, diterbitkan dalam satu edisi satu jilid tebal oleh Gramedia, yang cetak pertama pada 2001.
Keosalah Toer. Sosok inilah yang secara tidak langsung mempopulerkan karya Eiji Yoshikawa itu di Indonesia. “Waktu itu Saya mendapatkan tawaran untuk menerjemahkan Musashi dari Kompas. Tetapi dari versi Bahasa Inggris,” katanya kepada Suara Merdeka, saat menghadiri peringatan empat tahun Pramoedya Ananta Toer (Pram) di Blora, Jum’at (30/4) lalu.
Adik sastrawan Pram itu, mengaku menerima order menerjemah itu, karena ia memang butuh uang untuk hidup. Apalagi saat itu, ia baru saja bebas sebagai tahanan orde baru. “Honornya waktu itu Rp 500 per halaman,” ucap lelaki yang sudah menerjemah lebih dari 50 judul buku.
Namun, sekali lagi, kenyataan pahit harus dialami oleh Koesalah. Pasalnya, pada sekitar tahun 1981, ia mendapat telfon dari redaksi Kompas, yang dilarang pemerintah menyantumkan namanya pada terjemahan Musashi yang diterbitkan berseri di koran nasional itu.
“Pemuatan Musashi di Kompas tidak boleh menyantumkan nama saya sebagai penerjemah. Alasannya karena saya Lekra. Akhirnya disepakati memakai nama tim Kompas,” katanya.
Sampai saat ini, buku Musashi versi terjemahan Bahasa Indonesia pun, tidak menyantumkan namanya sebagai penerjemah. “Sekarang alamnya khan sudah lain, sudah reformasi. Saya ingin nama saya bisa dicantumkan dalam buku Musashi yang saya terjemahkan, karena ini bagian dari HAKI,” harapnya. (Rosidi)

Gembol, Karya Seni yang Butuh Ruang Promosi

Banyak karya seni yang memakai bahan dasar kayu sebagai medianya. Namun, bagaimana dengan karya seni yang menggunakan gembol (akar) jati?
Dalam sekala kecil, barangkali di beberapa kota ada pelaku seni yang menggunakan gembol jati sebagai medianya. Tetapi dalam jumlah yang cukup besar, rasanya Blora lah tempatnya.
Di Blora, memiliki ratusan pekerja seni, yang menggunakan media gembol jati ini. Meski pernah vakum atau tidak populer, tetapi Dalhar Muhammadun, salah satu penikmat dan pengrajin seni di Blora, mengakui, seni gembol di Blora sudah lama ada.
“Seni gembol sudah ada sejak lama, meski sekitar dua tahun lalu, sempat tidak populer. Tetapi saat ini mulai menggeliat lagi, dengan para pelaku, pengrajin dan pekerja seni yang ratusan jumlahnya,” katanya.
Punky Adi Sulistyo, salah satu seniman alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ), membenarkan pernyataan Dalhar Muhammadun. “Seni gembol sudah ada sejak lama, sejak saya kecil,” ungkapnya.
Menurutnya, meski seni gembol Blora kurang mendapatkan apresiasi dari publik dalam negeri, namun pasar di luar negeri cukup bagus. “Gembol justru lebih dikenal di luar negeri, meski melalui tangan ke enam belas,” kelakarnya.
Mengenai para pekerjanya, Punky, sapaan akrabnya, mengatakan, banyak yang mulanya bekerja di mebel, lalu belajat menjadi pematung. “Rata-rata pematung gembol itu belajar di mebel terlebih dahulu, baru kemudian matung,” terangnya.
Kunto Aji, dalam sebuah kesempatan juga menandaskan, bahwa seni gembol memang sudah menjadi karya seni yang sejak lama dibuat masyarakat Blora. “Iya, sudah sejak lama ada,” papar pemilik Samin Antiques Furniture & Traditional House yang berada di Jalan RA Kartini No 39 Blora.

Butuh Sentuhan
Persoalan seni gembol ini, ternyata membutuhkan perhatian ekstra dari pemerintah daerah. Gembol, sebuah karya seni yang harus dihargai dengan pantas sebagai seni, bukan sebagai kayu semata dengan keuntungan yang tidak seberapa.
Joko Yumianto, adalah salah satu dari sekian pecinta seni gembol yang prihatin dengan kondisi itu. “Selama ini, para pengrajin, pengepul dan pembuat seni gembol memang sudah ada kerjasama, tetapi para pengepul yang masih diuntungkan,” ujarnya.
Keprihatinan lain, adalah bahan baku gembol yang semakin lama semakin meipis. “Dalam banyak kesempatan, kepada teman-teman pelaku seni saya berharap agar gembol yang dimiliki, dijadikan sebagai karya seni yang bernilai tinggi, sehingga bisa dihargai sebagai karya seni, bukan sebagai kayu atau gembol semata. Para pengepul juga seharusnya memberikan pernghargaan lebih terhadap seni gembol, jangan cuma membeli murah, lalu menjualnya dengan harga tinggi,” tambahnya.
Untuk itu, keterlibatan pemerintah daerah, sebenarnya sangat dibutuhkan di sini. Punky mengatakan, seni gembol sudah dikenal di luar negeri, tetapi itu semua tanpa sentuhan dan partisipasi yang signifikan dari pemerintah.
Paling tidak, itulah yang dirasakan Dalhar Muhammadun. “Dalam pengamatan saya, para pengrajin dan pekerja seni, sudah menemukan pasarnya sendiri-sendiri, baik melalui pameran maupun jaringan yang dimilikinya. Kontribusi pemerintah dalam mengenalkan seni gembol dan ikut memasarkannya, masih sangat kurang,” tuturnya.
Untuk itu, ia pun berharap agar pemerintah bisa turun tangan dalam mengenalkan seni gembol, agar keprihatinan Punky, bahwa seni gembol dikenal di luar negeri melalui tangan ke enam belas, tidak akan terus berlarut-larut.
“Saya pikir, antusiasme masyarakat dan pelaku seni gembol akan tinggi, jika pemerintah mau turun tangan, apalagi pengrajin yang belum punya jaringan dan tidak cukup mempunyai modal,” tegas Madun.
Kapankah pemerintah akan turun tangan, agar para pelaku seni tidak jalan sendirian? Semua menunggu jawabnya. (Rosidi)

RIYAN

Fitriyan Dwi Rahayu, gadis belia asal Kabupaten Kebumen ini, tiba-tiba saja menjadi buah bibir. Ia bak harta karun yang baru saja ditemukan di antara bongkahan-bongkahan bebatuan. Sinarnya yang kemilau, menyiratkan betapa berharganya ia.
Semua berebut ingin tahu. Media massa memburunya, untuk membuat atau meng-ekspose profil siswi SMP Negeri 1 Karanganyar, Kebumen, itu. Siapa gadis manis yang biasa disapa Riyan, sehingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun, meluangkan waktunya ditengah kesibukannya, untuk menelfon secara pribadi untuk berbicara langsung dengannya?
Riyan. Gadis polos yang sederhana. Dari berbagai berita yang dimuat di media massa, juga di Suara Merdeka, saat pengumuman kelulusan UN (Ujian Nasional) berlangsung, ia bahkan sedang membantu ibunya di rumah. Tak ada risau di hati, karena ia merasa telah melakukan hal yang benar, yaitu mengerjakan soal UN sebagaimana yang mestinya. Sehingga ia pun memiliki keyakinan kuat, lulus dalam UN.
Hebatnya, ia tidak hanya sekadar lulus. Tetapi capaian nilainya, membuat semua orang kagum. Hampir sempurna. Tiga mata pelajaran, yaitu Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Bahasa Indonesia, mendapatkan nilai sempurna; 10. Hanya di pelajaran Bahasa Inggris, ia meraih nilai di bawah 10, yaitu 9.80. (SM, 9/5/2010).
Lalu, apa sekadar kekaguman yang muncul, dari kita, dan dari generasi bangsa ini? Apa kita akan merasa cukup hanya dengan ikut merasa bangga, dengan hasil yang dicapai oleh puteri pasangan Cipto Raharjo dan Sukarni Mugi Rahayu?
Tentu tidak. Karena dibalik prestasi yang telah diraih oleh Riyan, sebuah pesan yang sangat agung tersirat. Pesan akan ketekunan, kerja keras, dan percaya diri setelah berusaha melakukan yang terbaik.
Riyan adalah cermin, yang seharusnya menyadarkan kita akan sebuah perjuangan dan kerja keras, untuk mencapai hasil yang terbaik. Pepatah mengatakan, sesuatu yang terbaik, adalah yang tersulit untuk didapat. Ini juga berlaku bagi Riyan. Gadis itu tentu tidak mudah untuk mendapatkan nilai yang demikian mengagumkan.
Benar, bahwa perjuangan panjang yang melelahkan, suatu kali akan menjadikenangan indah ketika kesuksesan diraih. Sebagaimana seseorang yang kehausan di padang belantara, akan sirnalah dahaganya saat menemukan setetes air untuk diminum.
Dan Riyan telah menemukan itu. Tidak pernah terbayang tentunya, jika pada suatu ketika, Presiden RI SBY menelfon dan mengajaknya bicara. Tetapi itu kenyataan. Sebuah kebanggan, buah dari perjalan dan perjuangan panjangnya dalam menuntut ilmu, yang layak menjadi inspirasi bagi para generasi ini. Selamat, Riyan. (Rosidi)

Bu Sri, Ibu Semua Anak

Bu Sri Suharti nampak murung. Keceriaan yang senantiasa tersungging di bibir dibalut dengan senyum manisnya, kini terasa hambar. Rambutnya yang setengah tahun lalu masih hitam mengkilap, kini sudah “dihiasi” dengan uban. Bukan hanya karena umurnya yang semakin menua, tetapi beban hidup yang ditanggungnya memang semakin berat.
Betapa tidak. Kini ia menjadi tulang punggung keluarga sepenuhnya. Suaminya, yang bekerja di Perum Damri, Semarang, kini sudah tidak lagi bisa bekerja karena sakit yang dideritanya.
Belahan jiwanya yang sudah puluhan hidup bersama dalam indahnya mahligai rumah tangga dan dikaruniai dua orang putera, akhir-akhir sering masuk rumah sakit atau ke dokter untuk berobat. Menurut penuturan Bu Sri, puluhan juta sudah dihabiskan untuk berobat suaminya tersebut.
Sepulang dari rumah sakit, suaminya harus sering check up ke rumah sakit. Selain itu, ibu dua putera tersebut juga mencari obat ke berbagai pengobatan alternatif untuk kesembuhan suaminya.
Kecintaan bu Sri terhadap suaminya sangatlah tulus. Sehingga beban berat yang ditanggungnya, tidak menjadi alasan dia untuk mengeluh. Baginya, apapun akan dilakukan untuk kesembuhan suaminya. Ia rela membanting tulang dari pagi hingga sore mencari uang untuk biaya berobat suaminya. Selain juga, untuk biaya sekolah anak bungsunya yang masih sekolah dasar (SD).
Setelah lama berjuang melawan sakit yang mendera, suaminya pun, akhirnya harus mengembuskan nafas terakhir, menghadap keharibaan Ilahi. Innalilahi wa inna ilaihi raji’un.

Warung Es Bu Sri
Bu Sri mempunyai warung di samping SMPN 16 Semarang. Sekolah ini terletak di Kecamatan Ngaliyan, Semarang, di tepi jalan menuju ke arah Boja, Kendal.
Di warungnya ini, Bu Sri menjual aneka es dan juice buah. Pop Ice, menjadi salah satu es favorit anak-anak di sekolah ini. Beragam makanan ringan juga dijual di sini.
Sebuah warung sederhana, dengan bambu – bambu yang menjadi penyangganya. Tidak begitu lebar, memang. Hanya ada ada dua bangku panjang sebagai tempat duduk, berikut beberapa kursi dari plastik untuk duduk. Maka, nyaris, anak-anak harus sabar berdiri untuk antri membeli minuman di situ.
Keriuhan sering terjadi. Suara-suara anak-anak, terlebih sata istirahat atau pulang sekolah, berkerumun saling berebut untuk memberli es. Untung saja, bu Sri mempunyai satu rewang yang cukup cekatan membuatkan pesanan anak-anak yang kehausan dan lelah usai sekolah.
Ya, anak-anak sekolah sering menjadikan warung bu Sri sebagai tempat ngumpul. Jadi tidak sekadar untuk membeli minuman, penganan kecil, atau sekadar untuk ngobrol dan bercanda ria satu sama lain di sana saja. Maka tidak heran, jika warungnya jarang sekali terlihat sepi.
Menariknya, tidaka hanya anak-anak sekolah SMPN 16 Semarang saja yang suka membeli es (minuman) atau jajan di situ. Murid-murid dari sekolah lain yang lewat di sepanjang jalan Ngaliyan, juga sering menyempatkan diri ke situ.
Murid-murid SMA dari SMAN 01, SMAN 06 dan SMAN 13 Semarang, terutama yang dulu sekolah di SMPN 16, juga masih sering menyambangi warung bu Sri untuk melepas dahaga atau sekadar bertemu kangen dengan kawan lamanya, atau melepas kangen dengan bu Sri sendiri.
Ya. Bu Sri memang menjadi fenomena di SMPN 16 Semarang. Ia tidak hanya perempuan tukang warung biasa. Ia bukan sekadar ibu yang hanya bisa memasak dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan informal di rumah tangga. Tetapi ia bisa menjadi ibu bagi semua anak yang datang ke situ.
Karena itulah barangkali, yang menjadikan maka anak-anak yang sering ke situ, seakan tidak bisa melupakannya. Hingga setelah mereka lulus sekolah di SMPN 16 pun, dan melanjutkan belajar di tempat lain, hampir setiap hari mereka akan tetap datang ke warungnya.

Ibu Semua Anak
Rizki Taher, perempuan yang menginjak remaja ini, saat ini sekolah di SMAN 06 Semarang. Dia adalah alumnus SMPN 16. Namun hampir setiap hari, sepulang sekolah, ia mampir ke warung bu Sri. Padahal jarak sekolahnya dengan warung bu Sri sangat jauh, yaitu sekitar 5 Kilometer. Namun itu tak menghalanginya untuk menyambangi warung es favorit anak-anak siswa SMPN 16 Semarang.
Menurut pengakuannya, ia suka kangen kalau sehari saja tidak datang ke warungnya bu Sri. Padahal kalau ke situ, ia terkadang juga tidak beli apa-apa, tetapi sekadar ingin ngobrol, bercerita dan atau sekadar berkeluh kesah dengan bu Sri.
Pada saat-saat seperti itu, bu Sri akan selalu mendengarkan cerita dan celoteh anak-anak sekolah yang datang ke warungnya. Satu saat, ia akan menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak itu. Tetapi di saat yang lain, ia seakan menjadi ibu bagi si anak dengan nasehat-nasehat bijak yang akan menjadi bahan renungan buat masa depan mereka.
Inilah yang menyebabkan anak-anak nyaman dan merasa senang dengan bu Sri. Bukan bu Sri yang ingin hadir dalam kehidupan anak-anak itu. Tetapi anak-anak tersebut lah, karena rasa cinta, kasih, dan saying yang demikian besar, sehingga anak-anak hadir dalam kehidupan bu Sri. Bu Sri bisa menjadi pengobat dahaga bagi anal yang kekurangan kasih saying dari orang tuanya.
Di hadapan bu Sri, anak-anak tidak saja mendapatkan tempat untuk berkeluh kesah, tetapi mereka juga mendapatkan tempat untuk mencurahkan dan mendapatkan kasih saying. Apalagi bagi mereka yang dari keluarga broken home dan kurang perhatian dari orang tua.
Tidak untuk satu dua anak saja bu Sri bertindak seperti itu. Hampir dengan semua anak yang datang ke warungnya, ia berlaku sama dan tidak membeda-bedakannya. Ia adalah ibu bagi semua anak yang datang ke situ. Maka, jangan heran kalau ada anak yang datang terus bergelayut manja di pundaknya. Dan di saat yang sama, ada anak lain yang mencium tangannya untuk berpamitan pergi atau pulang ke rumah.
Hal yang sama juga dialami oleh Hesti, salah seorang alumni SMPN 16 Semarang, yang, selepas dari sana, melanjutkan belajarnya di SMK. Bagi Hesti, bu Sri tak ubahnya ibu. Dulu, setiap hari ia selalu mampir ke warung bu Sri.
Bu Sri sendiri, sudah menganggap Hesti, Rizki, dan anak-anak yang lain, tak ubahnya seorang anak. Kasih sayangnya kepada mereka, hingga ia tak rela jika ada anak-anak itu terjerumus ke pergaulan yang salah.
Pernah suatu ketika, ia mendengar salah seorang anak alumni SMPN 16 yang terjerumus terlalu jauh ke dalam pergaulan bebas. Dia merasa prihatin dan kasihan dengan masa depan si anak. Sehingga ia pun berpesan kepada anak-anak yang ada di situ, agar menjaga diri. “Boleh bergaul dengan siapa saja, tetapi harus menjaga diri. Jangan sampai terjerumus ke dalam pergaulan bebas yang menyesatkan,” kata bu Sri suatu kali.
Hal yang sangat menyedihkan lagi, saat bu Sri mendengar, bahwa salah satu anak yang sering datang ke warungnya, hamil, akibat sering ke luar dengan anak-anak yang tidak memikirkan masa depan, dan hanya memikirkan kebebasan yang terlampau berlebihan dalam hidup.
Ia mendengar, bahwa si anak, jarang pulang ke rumah. Tidurnya tidak tentu di mana tempatnya. Teman-temannya sudah kehilangan komunikasi. Anak tersebut sudah tidak lagi nelfon, apalagi menyambangi teman-temannya. Bu Sri, selalu menanyakan keberadaannya. Tetapi setiap teman si anak itu yang dating, selalu bilang, “Saya nggak tahu, bu. Saya juga sudah lama tidak kontak dengan dia. Katanya dia juga sudah tidak pernah masuk sekolah lagi.”
Karena lama ditanyakan tidak ada kabar, apalagi ia juga mengurusi suaminya yang lagi sakit, bu Sri pun sudah tidak lagi menanyakan. Sampai akhirnya terdengar, bahwa si anak itu telah hamil, dan sekarang tidak diketahui oleh teman-temanya di mana rimbanya.

Pejuang Sejati
Kita tentu sudah tidak asing dengan nama RA Kartini, yang dikenal kemudian oleh sejarah nasional berkat surat-suratnya kepada teman-temannya di Eropa seperti Stella Zehandelar.
Habis Gelap Terbitlah Terang. Inilah buku yang kemudian mengukuhkan nama adik dari Raden Sosro Kartono dalam salah satu pejuang perempuan Indonesia yang sangat di hormati.
Namun ternyata kita lupa, bahwa banyak pejuang lain dengan bidang garapan lain, yang barangkali tidak terlintas sedikit pun dalam benak kita. Hal-hal kecil yang dianggap remeh temeh, sehingga dipandang sebelah mata d an tidak ada artinya.
Padahal, hal-hal kecil tersebut terkadang mempunyai dampak yang sangat besar. Dan bu Sri, adalah salah satu sosok yang tidak pernah terlintas dalam benak kita, bahkan media massa, bahwa peranannya sangatlah besar dalam mendampingi anak-anak, di luar lembaga formal atau sekolah.
Bu Sri memang seorang tukang warung. Tetapi ia memiliki peranan yang sangat besar dalam mendampingi anak-anak sekolah yang sering dating ke warungnya. Ia adalah ibu bagi anak-anak yang dilahirkannya, menjadi tempat bernaung dan teladan bagi anak-anaknya tersebut.
Tetapi di sisi lain, di warungnya, ia bisa menjadi ibu bagi semua anak yang dating ke sana. Ia menjadi tempat berkeluh kesah, tempat mencurahkan isi hati, yang mengisi ruang kosong anak-anak yang haus akan kasih saying.
Bu Sri adalah pejuang sejati, dengan kapasitas yang dimilikinya. Ia adalah pejuang dalam arti yang sesungguhnya, yang mendampingi, men-support, dan mengarahkan anak-anak dengan nasehat bijak yang tulus tanpa pamrih. Terima kasih, bu Sri !!!
——————-

Tulisan ini saya persembahkan buat Bu Sri. Terima kasih, ibu. Saya banyak belajar sama njenengan.

Manuskrip Kuno untuk Anak Bangsa

Platen-Atlas, Behoorrence Bij De Indische Planten En Haar Geneeskrafcht, Door Mevrouw J Kloppenburg-Versteegh. Adalah salah satu manuskrip kuno milik RA Manik Wigati (56), yang diterbitkan NV Boekhandel En Drukkerij, Semarang, pada 1909.
Buku tersebut merupakan buku bergambar dengan lukisan tangan, berisi tentang berbagai khazanah tanaman (bunga-bungaan) yang memiliki manfaat untuk mengobati berbagai penyakit. Naskah yang sudah berumur satu abad itu, isinya dijelaskan dalam sebuah buku berjudul ‘Perdjalanan Orang Mentjaci Slamat’ yang ditulis oleh J Bunyan.
Ada manuskrip lain yang tak kalah dahsyat, yaitu sebuah tulisan tentang sejarah dan berbagai peninggalan Janjang, yang tertera dalam lontar gulungan. Karena usianya yang sudah tua, maka kita pun harus hati-hati untuk membukanya.
Tak kalah menarik, Kitab Primbon Betaljemur Adammakna karangan Soemodidjojo Mahadewa, yang dalam salah satu lembarannya tertera “Cap-capan kaping 45 wulan Oktober 1980”. Ada juga Serat Hari Wara (Petangan Dinten) karya Ki Padma Susastra Ngabehi Pradja Pustaka, yang merupakan cetakan ke-2 pad 1953.
Apakah hanya itu? Tidak. Ratusan naskah kuno, kini telah dikoleksi oleh RA Manik Wigati. Naskah-naskah tersebut berisi tentang banyak hal, mulai dari tanaman, perobatan, hingga sejarah masa lampau berbagai daerah, seperti sejarah Blora.
“Buku yang ada tak hanya bertuliskan tukisan Jawa kuno. Ada juga yang berbahasa Belanda, Mandarin, dan bahasa Indonesia yang masih memakai ejaan lama,” terang Manik.
Ratusan karya yang berhasil dikumpulkannya tersebut, kini tersimpan di sutu tempat yang masih dirahasiakan. “Bukan berarti saya pelit, tetapi demi keamanan dan keselamatan naskah-naskah itu,” ungkapnya.
Namun begitu, Suara Merdeka beruntung, karena saat bertandang, masih diperlihatkan beberapa naskah kuno yang membuat berdecak kagum. Selain lontar yang harus ekstra hati-hati untuk membukanya, salah satu manuskrip yang diperlihatkan, merupakan sebuah lembaran kertas dengan tulisan tangan bilingual, yaitu memakai bahasa Belanda dan tulisan Jawa Hanacaraka yang amat rapi.

Untuk Generasi
Untuk mengumpulkan naskah-naskah kuno tersebut, tidaklah pekerjaan mudah. “Saya harus mondar-mandir ke sana kemari untuk mendapatkannya. jadi selain energi, biayanya juga tidak sedikit,” paparnya.
Meski begitu, ia sangat senang karena memang suka dengan naskah-naskah kuno. Habatnya, ia tidak sekadar menjadi kolektor untuk naskah-naskah yang memiliki high value itu, tetapi ia juga suatu saat akan merunut sejarah berdasarkan dari buku yang dimilikinya. “kalau ada naskah kuno, tidak makan seharian pun tidak apa-apa,” kelakarnya.
Kini, berbagai naskah kuno yang dimilikinya tersebut, disimpan dalam sebuah tempat yang masih dirahasiakan, tetapi bukan berarti tidak boleh diketahui oleh orang lain, melainkan ia belum menemukan orang dan tempat yang tepat untuk naskah-naskah tersebut.
“Bagi saya, ini lebih berharga bagi saya daripada materi atau harta benda. Karena inilah nanti yang akan saya wariskan untuk generasi bangsa ini. Dengan ini, nantinya saya akan tetap dikenang. Naskah-naskah yang ada, juga bisa dipergunakan untuk melakukan riset nantinya oleh para mahasiswa atau siapa saja yang membutuhkannya,” tutur ibu yang mengaku pernah mengenyam pendidikan di jurusan sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) ini. (Rosidi)

Tak Ingin ‘Lari’ dari Blora

Meski cukup memiliki kapasitas intelektual untuk ‘bertarung’ dalam dunia aktifisme di Ibukota Jakarta, namun itu tak membuat Dalhar Muhammadun, kepincut untuk ‘mengadu nasib’ di sana. Ia bahkan mengaku lebih nyaman melakukan kerja-kerja sosial di kota kelahirannya; Blora.
Dalhar Muhammadun, tak ingin lari dari Blora demi sebuah popularitas atau mengejar materi, dengan kapasitas yang dimilikinya. Ketika para mahasiswa dan orang-orang sibuk berkoar-koar dan berdemonstrasi di kota-kota besar dalam gerakan reformasi 1998, ia malah menarik diri ke Blora, menyikapi berbagai persoalan sosial yang muncul, tak terkecuali gerakan reformasi saat itu. Ia pun menjadi salah satu ikon dalam gerakan reformasi di bumi kelahiran Pramoedya Ananta Toer itu.
Pun sewaktu orang-orang lebih memilih mengritisi masalah isu korupsi para pejabat di level nasional karena dipandang sebagai isu yang seksi, Madun, begitu ia biasa disapa, juga lebih memilih untuk mengritisi isu korupsi di level lokal. Ia dan kawan-kawannya yang kemudian mendirikan Lembaga Penelitian dan Aplikasi Wacana (LPAW), efektif dari 2003, konsen mengritisi isu korupsi di Blora, yang di antaranya melibatkan Warsit, mantan ketua DPRD 1999-2009.
Madun adalah pioneer gerakan pemuda di Blora sejak awal-awal gerakan reformasi. Suami Zubaidah dan ayah dari Zahir Ahmad dan Dahinul Ilmi ini pula yang kemudian dengan kawan-kawannya mencoba membuat sebuah lembaga, yang saat ini, telah melahirkan generasi baru aktifis muda di Blora, lewat LPAW.
LPAW, lembaga yang digagas bersama kawan-kawannya itu, kini tidak sekadar organisasi kacangan. Ia telah menjadi salah satu organisasi yang cukup diperhitungkan, karena kiprahnya. Saat ini, bersama jejaringnya, yaitu PATTIRO (Jakarta), Bojonegoro Institute (Jatim) dan Reveneu Watch Institute (Amerika Serikat), juga melakukan pengawasan transparansi eksplorasi minyak Blok Cepu.
Jejaring lain LPAW yang menandaskan betapa ia telah demikian mendapat tempat di hati para aktifis di Indonesia, adalah dengan terjalinnya hubungan kemitraan dengan berbagai organisasi lain seperti KP2KKN Jateng, Sarikat Petani Pasundan (SPP), Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Kader Muda Nahdlatul Ulama (KMNU) dan juga Local Goverment Inisiative (LGI), Hongaria.

Selain itu, buku Tanah Berdarah di Bumi Merdeka: Menelusuri Luka-luka Sejarah 1966 di Blora yang diterbitkan pada 2004, hasil kerjasama Yayasan Advokasi Transformasi Masyarakat/ATMA, Lembaga Penelitian dan Aplikasi Wacana/LPAW, serta Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat/Elsam, juga bisa menjadi salah satu manifestasi kapasitas personal dan intelektual yang dimiliki.

Generasi Penerus
Hal lain yang menarik dari Dalhar Muhammadun, barangkali, adalah betapa ia tidak terlalu peduli dengan popularitas. Ia juga tidak ingin menonjolkan diri melalui lembaga yang telah ia dirikan dan ia besarkan bersama kawan-kawannya. LPAW yang telah didirikan, tidak lah besar karena dia sebagai ikon. “Saya senang, karena tanpa saya, LPAW akan tetap jalan dan eksis,” katanya.
Eksistensi LPAW tersebut, menurutnya, karena generasi penerus atau kader yang sekarang ada di LPAW, sudah cukup mumpuni untuk menjalankan roda organisasi. “Sebuah organisasi biasanya sulit mencari pengganti pimpinannya. Tetapi di LPAW, itu tidak jadi persoalan,” imbuhnya.
Pengkaderan di LPAW yang bisa dibilag sukses ini, menjadikan ia tidak harus pusing memikirkan lembaga ini. “Saya hanya datang sekali-kali dan tahu-tahu, berbagai agenda yang ada sudah beres,” katanya sembari tersenyum.
Lalu, apa yang dilakukannya, dengan sedikitnya campur tangan dia di LPAW? “Saya sekarang lagi belajar membuat karya seni dengan mengoptimlkan potensi lokal, yaitu batu. Harapan saya, ke depan, bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar,” katanya. (Rosidi)

Mencicipi Pepes Kakap Bakar di Kampoeng Sawah

Ikan kakap barangkali tidak asing bagi banyak kalangan. Banyak rumah makan, kafe ataupun restoran yang menyediakan menu ini. Kakap bakar menjadi menu makanan yang sudah demikian populer, tetapi tidak untuk pepes ikan kakap.
Ya, masih belum banyak rumah makan, kafe maupun restoran yang memiliki menu ini. Salah satunya adalah di Pondok Makan dan Pemancingan Kampoeng Sawah, Polaman, Blora. Pondok makan ini berada di Jl Blora-Rembang KM-9, Sendangharjo, Blora.
Tidak sulit menemukan letak pondok makan ini. Karena persis di pinggir jalan, tak jauh dari perbatasan Kabupaten Rembang-Blora. Maka tak heran jika tempat melepas lapar ini, cepat dikenal. “Mulai buka pada 2006,” kata Primadona, salah seorang pelayan.
Di pondok makan yang didirikan Prasetyo, mantan Lurah Sendangharjo ini, pepes kakap menjadi menu yang tidak lazim, karena biasanya, kakap itu dibakar. Sukemi, ibu paruh baya inilah yang dipercaya sang pemilik pondok makan untuk meracik bumbu sekaligus juru masaknya.
Suemi menjelaskan, bumbu pepes kakap olahannya itu memakai bumbu yang mudah didapatkan. “Bawang merah, cabe, kemiri, tomat, jahe dan sedikit dicampur kemiri,” jelasnya.
Pepes ikan kakap sebelumnya sudah dimasak terlebih dahulu, kemudian ditata di outlet masakan. “Tetapi biasanya, kebanyakan pelanggan lebih menyukai jika pepes ikan kakapnya dibakar. Selain biar hangat, katanya lebih nikmat,” tambah Primadona yang ikut menjadi pegawai selepas lulus SMA tahun lalu.
Pepes ikan kakap di kampoeng sawah pun, semakin digemari. Maka, tak heran jika seringkali pondok makan tersebut selalu ramain. “Kalau pas hari Minggu dan hari libur, sering ramai, terutama oleh anak-anak muda,” tambah Primadona.

Makan di Sawah
Sesuai namanya, kampoeng sawah, para pelanggan memang seakan berasa makan di tengah tegalan sawah. Pasalnya, pondok makan itu makan di pinggir sawah. Gazebo-gazebo yang ada, juga di setting agar pelanggan bisa makan sembari menikmati pemandangan di sawah sekitarnya.
Sistem tanah sawah yang menggunakan pola tanam terasiring, karena beberapa bagian merupakan dataran tinggi, menjadikan pemandangan semakin epik, sehingga bisa menambah selera makan sambil bercengkrama dengan panorama alam pedesaan.
Suasana sawah dengan tanaman-tanaman di sawah yang ada, hampir mirip seperti undak-undakan yang saling menggendong. Sementara di sela-sela pondok makan tersebut, berbagai tanaman hias, juga menambah persona tersendiri.
Ya, pepes ikan kakap, pun serasa bertambah lezat. Karena ia tidak hanya dihidangkan oleh pelanggan. ‘Hidangan’ alam berupa panorama, juga akan menambah betah pelanggan berlama-lama.
Mau coba? Datang lah. Karena pepes ikan kakap bakar itu tidak sendirian. Setidaknya, ada menu pendamping yang bisa menambah kelezatan makanan yang ada. Di antaranya cumi, ayam bakar atau goreng, atau sayur semur. Pilih mana untuk menjadi pendamping pepes kakap bakar? (Rosidi)